Mahasiswa Surabaya Demo Desak Copot Gubernur BI Perry Warjiyo
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Mahasiswa di Jawa Timur menggelar aksi demonstrasi yang menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Bank Indonesia (BI), khususnya Gubernur Perry Warjiyo. Aksi ini dilakukan di depan Gedung BI Perwakilan Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu (10/6/2026). Demonstran menilai pelemahan nilai tukar rupiah hingga mencapai Rp18.000 per dolar AS sebagai indikasi kegagalan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Kekhawatiran tentang Kondisi Ekonomi Nasional
Massa aksi dari Kelompok Cipayung Plus Jawa Timur mengungkapkan bahwa melemahnya rupiah menjadi sorotan utama mereka. Mereka memandang kondisi ini sebagai potensi pemicu krisis ekonomi-sosial serupa dengan yang terjadi pada 1998. Koordinator lapangan aksi, M Ivan Akiedozawa, menyatakan bahwa krisis moneter saat ini bisa berulang jika tidak segera ditangani.
“Kami turun untuk mewaspadai jangan sampai krisis itu terjadi,” ujarnya.
Tuntutan Terhadap BI dan Pemerintah
Demonstran juga menyebut bahwa tekanan ekonomi saat ini terkait dengan program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Mereka menilai penggunaan anggaran negara yang besar untuk program tersebut menyebabkan dampak domino terhadap perekonomian.
Para mahasiswa menyampaikan tujuh tuntutan kepada BI, DPR RI, serta Presiden Prabowo Subianto. Tuntutan terberat adalah agar Presiden mencopot Gubernur BI Perry Warjiyo beserta jajarannya yang dinilai tidak memiliki integritas.
“Kami mendesak Presiden RI, Presiden Prabowo Subianto untuk mencopot Gubernur Bank Indonesia beserta jajarannya yang sudah terbukti dan diduga tidak memiliki integritas,” ujarnya.
Peran Rupiah dalam Kedaulatan Bangsa
Dalam orasinya, para demonstran menegaskan bahwa rupiah bukan hanya alat tukar, tetapi simbol kedaulatan dan harga diri bangsa. Mereka menuntut BI untuk menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Rupiah bukanlah sekadar alat tukar, melainkan simbol kedaulatan bangsa, simbol dari harga diri bangsa. Maka dari itu, Bank Indonesia harus hadir sebagai benteng utama pertahanan ekonomi nasional,” terangnya.
Penjelasan BI tentang Kebijakan yang Diambil
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Nasrullah, menjelaskan bahwa kebijakan BI diambil melalui pertimbangan komprehensif, termasuk memperhatikan dinamika global, arus investasi, dan upaya menjaga inflasi tetap terkendali.
“Semua kebijakan Bank Indonesia dilakukan melalui berbagai pertimbangan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pengendalian inflasi demi kepentingan masyarakat,” ujar Nasrullah.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas sistem keuangan, nilai tukar rupiah, dan kondusivitas roda perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.
Pentingnya Stabilitas Ekonomi
Pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi isu penting bagi masyarakat dan pelaku usaha. Banyak pihak khawatir bahwa kondisi ini dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan stabilitas bisnis. Sejumlah ahli ekonomi menyarankan pemerintah dan BI untuk segera merancang kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi tekanan ekonomi.***

>

Saat ini belum ada komentar