El Niño Datang, Apakah Ini yang Paling Dahsyat dalam Sejarah?
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Dunia kini berada di ambang peristiwa iklim yang memicu kekhawatiran serius. Fenomena El Niño telah terdeteksi dan diperkirakan akan berkembang dalam beberapa bulan mendatang. Para ilmuwan kini semakin yakin bahwa fenomena ini akan memengaruhi cuaca dan iklim secara signifikan, tidak hanya di wilayah Pasifik, tetapi juga di seluruh dunia.
Bukan Sekadar Ancaman Cuaca
El Niño adalah fenomena alami yang ditandai oleh pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Meskipun terjadi di Samudra Pasifik, dampaknya meluas hingga ke berbagai belahan dunia. Dampak utamanya mencakup perubahan pola angin, curah hujan, dan suhu udara.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menekankan pentingnya persiapan menghadapi potensi peristiwa El Niño yang kuat. “Kita perlu bersiap untuk potensi peristiwa El Niño yang kuat, yang akan memperburuk kekeringan dan curah hujan lebat serta meningkatkan risiko gelombang panas baik di darat maupun di laut,” ujarnya.
Indikasi Kuat dari Suhu Laut
Pengamatan WMO menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur terus meningkat sejak April 2026. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi di bawah permukaan laut. Di sejumlah wilayah tropis, suhu bawah permukaan tercatat lebih dari 6 derajat Celsius di atas rata-rata. Air hangat dalam jumlah besar menumpuk di bawah permukaan dan menjadi cadangan energi yang dapat memperkuat El Niño dalam beberapa bulan mendatang.
Model Iklim Berubah Arah
Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa melaporkan bahwa hampir seluruh model iklim global yang mereka pantau telah menaikkan prediksi kekuatan El Niño. Analisis ini menggabungkan prakiraan dari sembilan pusat meteorologi utama dunia, termasuk dari Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang.
Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus Carlo Buontempo menjelaskan bahwa sekitar 75 persen model kini memprediksi suhu laut di wilayah utama pemantauan El Niño akan mencapai sedikitnya 2,5 derajat Celsius di atas normal pada November 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan satu bulan sebelumnya.
Perbedaan dengan Peristiwa Sebelumnya
Salah satu faktor yang membuat El Niño kali ini berbeda adalah bahwa fenomena ini berkembang ketika suhu bumi sudah berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah manusia modern. Dalam sejarah, El Niño besar biasanya terjadi ketika rata-rata suhu global masih lebih rendah. Kini, El Niño berkembang di atas latar belakang pemanasan global yang disebabkan oleh akumulasi emisi gas rumah kaca selama puluhan tahun.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres menyebut perkembangan ini sebagai peringatan iklim yang harus ditanggapi secara serius. “Ilmu pengetahuan telah jelas: El Niño akan tiba di depan pintu kita dalam beberapa bulan mendatang dengan kepastian 90 persen. Dunia harus memperlakukannya sebagai peringatan iklim mendesak,” ujarnya.
Indonesia Siaga Menghadapi Musim Kemarau
Bagi Indonesia, ancaman El Niño bukan sekadar persoalan global. Dampaknya mulai terlihat dalam prakiraan musim kemarau tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan bahwa fenomena El Niño diperkirakan bertahan hingga awal 2027. “BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen,” ujarnya.
Langkah Antisipasi yang Harus Dilakukan
BMKG merekomendasikan berbagai langkah antisipasi, seperti penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, penguatan pengelolaan sumber daya air, hingga peningkatan kesiapsiagaan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Meski berbagai indikator menunjukkan arah yang semakin jelas, para ilmuwan masih berhati-hati. Belum ada kepastian apakah El Niño tahun ini akan melampaui peristiwa besar 1997–1998 atau 2015–2016. Prakiraan iklim tetap mengandung ketidakpastian, terutama ketika memproyeksikan kondisi beberapa bulan ke depan.
Tindakan Cepat untuk Mencegah Bencana
Mayoritas model iklim global bergerak ke arah yang sama. Lautan menunjukkan sinyal yang konsisten. Atmosfer mulai merespons. Organisasi Meteorologi Dunia meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peringatan dini.
Dengan kata lain, dunia tidak lagi menunggu kedatangan El Niño. Dunia sedang menunggu jawaban atas pertanyaan yang lebih menentukan, apakah fenomena yang sedang tumbuh di Pasifik itu akan menjadi El Niño biasa, atau salah satu yang paling kuat dalam sejarah modern. Jawaban atas pertanyaan itu kemungkinan akan mulai terlihat dalam beberapa bulan mendatang. Namun bagi banyak negara, termasuk Indonesia, waktu untuk bersiap sudah dimulai sekarang.***
- Penulis: Diagram Kota

>

Saat ini belum ada komentar