Penanganan TBC di Sekolah Surabaya: Kolaborasi untuk Lindungi Kesehatan dan Pendidikan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular, kota Surabaya mengambil langkah strategis dalam menghadapi kasus Tuberkulosis (TBC) yang terjadi di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan kolaboratif antara dinas pendidikan, puskesmas, dan masyarakat, penanganan TBC di sekolah menjadi fokus utama. Langkah ini dilakukan agar tidak hanya menjaga kesehatan siswa, tetapi juga memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi.
Pendekatan Manajemen Khusus untuk Cegah Penularan
Febrina Kusumawati, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, menjelaskan bahwa penanganan TBC di sekolah dilakukan dengan pendekatan manajemen khusus. Siswa, guru, maupun tenaga pendidikan yang positif TBC sementara waktu dilarang mengikuti kegiatan tatap muka secara langsung. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran lebih luas.
“Anak yang positif TBC, ada sekian anak, ada sekian guru, ada sekian tenaga pendidikan tidak bisa kita biarkan begitu saja. Maka yang kami lakukan adalah memfasilitasi untuk tidak bertemu secara langsung, karena TBC itu menular,” ujarnya.
Pendidikan Tetap Berjalan Meski Ada Kasus TBC
Meskipun siswa atau guru positif TBC tidak dapat mengikuti pembelajaran secara langsung, hak pendidikan tetap menjadi prioritas. Dispendik Surabaya memastikan bahwa proses belajar tetap berjalan melalui sistem daring. Hal ini bertujuan agar siswa tetap dapat mengikuti pelajaran dan mendapatkan dukungan pendidikan.
“Pendidikan itu hak anak-anak kita. Jadi tidak boleh kita menahan mereka karena kondisi TBC. Solusinya adalah pendidikan tetap difasilitasi agar mereka tetap bisa mendapatkan haknya,” tambah Febrina.
Bimbingan Khusus untuk Siswa Terinfeksi TBC
Selain itu, guru Bimbingan Konseling (BK) juga memberikan pendampingan khusus bagi siswa yang sedang menjalani pengobatan. Tujuan dari pendampingan ini adalah memastikan proses belajar tetap efektif meskipun siswa tidak berada di kelas reguler.
“Tidak mudah memang memisahkan anak dengan teman-temannya, tetapi kami berupaya memberikan pendampingan agar proses belajar tetap efektif. Progres belajar mereka juga terus dimonitor hingga masa pengobatan selesai,” jelas Febrina.
Koordinasi Antar Stakeholder untuk Efektivitas Penanganan
Koordinasi antara Dispendik, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan menjadi kunci dalam penanganan kasus TBC di sekolah. Selain itu, masyarakat juga diajak untuk aktif melaporkan apabila menemukan anak dengan gejala batuk berkepanjangan agar segera diperiksa secara medis.
“Kalau di lingkungan anda ada anak yang sering batuk dan perlu dicek, bisa langsung berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan atau Puskesmas. Kalau teridentifikasi, kami akan segera memfasilitasi agar anak tersebut tetap bisa belajar,” jelas Febrina.
Pencegahan dengan Kebersihan dan Sirkulasi Udara
Di sisi pencegahan, sekolah didorong untuk memperhatikan sirkulasi udara di ruang kelas serta menerapkan kebiasaan hidup bersih, seperti mencuci tangan dan menjaga jarak. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir risiko penularan TBC di lingkungan sekolah.
Kerja Sama Antara Berbagai Pihak
Melalui kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, dan masyarakat dalam forum tersebut, diharapkan upaya pengendalian TBC dapat berjalan lebih efektif serta mampu melindungi kesehatan anak-anak sekaligus menjaga keberlangsungan pendidikan mereka.
Dengan pendekatan yang terstruktur dan kolaboratif, Surabaya menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi TBC di lingkungan pendidikan. Upaya ini tidak hanya melindungi kesehatan siswa, tetapi juga memastikan bahwa hak pendidikan tetap terjamin.***
- Penulis: Diagram Kota

>

Saat ini belum ada komentar