Proyek Kereta Rel Listrik Surabaya Regional Railway Line (SRRL) Memasuki Tahap Konsultasi Teknis
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 20 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Proyek pembangunan Surabaya Regional Railway Line (SRRL) kini memasuki tahap awal pengerjaan yang menandai pergeseran dari konsep ke tindakan nyata. Dengan fokus pada pengembangan infrastruktur transportasi massal, proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi kemacetan dan meningkatkan mobilitas warga di wilayah Jawa Timur.
Tahapan Awal Proyek SRRL
Saat ini, SRRL sedang dalam proses penyusunan Detail Engineering Design (DED) oleh konsultan asal Jepang, Chodai Co. Ltd. Tahapan ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa desain proyek sesuai dengan kondisi lapangan serta standar teknis yang diperlukan.
Denny Michels Adlan, Kepala BTP Kelas I Surabaya DJKA, menjelaskan bahwa tim konsultan telah melakukan survei langsung ke lokasi untuk mengidentifikasi kondisi fisik area yang akan dilalui jalur kereta. “Ini adalah tahap awal mereka langsung melihat ke lapangan, mengidentifikasikan kondisi di lapangan seperti apa,” katanya.
Selain itu, koordinasi lintas sektor antara pemerintah kota hingga provinsi juga telah dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memastikan kesiapan pelaksanaan proyek, terutama dalam hal pembebasan lahan dan penertiban area yang berpotensi terganggu akibat pembangunan rel.
Jadwal Pelaksanaan Proyek
Berdasarkan kesepakatan dengan lembaga pembiayaan asal Jerman, KfW Development Bank, proyek SRRL akan mulai memasuki tahap konstruksi fisik pada tahun 2028. Denny menyebutkan bahwa jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, peletakan batu pertama atau groundbreaking dapat dilakukan pada akhir tahun 2027.
“Ya, diupayakan akhir tahun depan itu bisa dilaksanakan (ground breaking),” ujarnya.
Menurut kontrak kerja sama, timeline pembangunan fisik SRRL direncanakan berlangsung dari 2028 hingga 2031. Proses konstruksi diperkirakan memakan waktu sekitar 2,5 tahun.
Penertiban Wilayah dan Keselamatan
Pembangunan SRRL tidak hanya berkaitan dengan konstruksi fisik, tetapi juga memerlukan penertiban wilayah yang berada di bantaran rel. Denny menjelaskan bahwa DJKA berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan keamanan dan keselamatan masyarakat.
“Kita pun juga bisa berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur khususnya mungkin Kota Surabaya manakala nanti perlu ada penertiban lahan ataupun juga pembebasan yang mana ini kan tidak mudah, harus perlu dilakukan sosialisasi,” ujarnya.
Salah satu contoh yang disebutkan adalah area Pasar Turi, di mana rel kereta berada sangat dekat dengan bangunan. “Di Pasar Turi beberapa kali kita mendampingi dari KfW, mereka melihat itu memang di Pasar Turi itu juga kita lihat antara rel sama bangunan dekat sekali ya. Itu bisa ya mungkin cuma beda paling jauh 2 meter ya saya lihat,” tambahnya.
Kunjungan dan Perencanaan Flyover
Kunjungan hari ini juga dihadiri oleh Dirk Schneider, Senior Technical Adviser KfW. Selain meninjau progres SRRL, ia juga meninjau rencana pembangunan dua flyover yang akan satu paket pengerjaan dengan SRRL, yaitu Flyover Bung Tomo Ngagel dan Flyover Ambengan.
Kontribusi SRRL untuk Transportasi Massal
SRRL merupakan proyek kerja sama antara Kementerian Perhubungan dengan KfW Development Bank. Proyek ini mencakup pembangunan jalur ganda dan elektrifikasi untuk transportasi massal berbasis rel di wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Saat ini, SRRL Fase I-A yang menghubungkan antara Stasiun Surabaya Gubeng dengan Sidoarjo sedang memasuki tahap pengerjaan DED oleh Chodai. Proyek ini ditargetkan dapat beroperasi penuh pada tahun 2030 mendatang.***

>

Saat ini belum ada komentar