Panggung Seni Hilang, Ekosistem Kebudayaan Surabaya Terancam Runtuh
- account_circle Teguh Priyono
- calendar_month 37 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Hilangnya panggung seni di Surabaya mulai memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku budaya.
Mereka menilai, kondisi ini tidak hanya menghambat kreativitas, tetapi juga mengancam runtuhnya ekosistem kebudayaan yang selama ini menjadi identitas kota.
Para seniman menyebut, ruang tampil yang dulu hidup kini semakin sulit diakses.
Frekuensi pertunjukan menurun drastis, sementara regenerasi pelaku seni ikut terhambat akibat minimnya wadah ekspresi.
Ruang Seni Kian Terpinggirkan
Sejumlah ruang budaya yang dahulu menjadi pusat aktivitas seni kini kehilangan perannya.
Taman Hiburan Rakyat (THR) yang pernah menjadi rumah bagi ludruk, ketoprak, dan kelompok lawak legendaris Srimulat, kini tidak lagi seaktif masa jayanya.
Hal serupa terjadi di Balai Pemuda yang dahulu melahirkan musisi seperti Gombloh dan Leo Kristi. Kini, ruang tersebut belum mampu menghadirkan intensitas kegiatan seni seperti sebelumnya.
Kondisi ini membuat banyak seniman kehilangan panggung yang selama ini menjadi ruang hidup mereka.
Dampak Langsung pada Seniman
Pelaku seni merasakan dampak paling nyata. Mereka tidak hanya kehilangan kesempatan tampil, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan.
Tanpa panggung yang rutin, seniman kesulitan menjaga produktivitas dan kualitas karya. Proses kreatif yang seharusnya berlangsung berkelanjutan justru terhenti.
Lebih jauh, generasi muda juga kehilangan ruang belajar. Minimnya interaksi antara seniman senior dan pendatang baru mengancam keberlangsungan tradisi seni di Surabaya.
Masalah Sistemik dalam Pengelolaan Budaya
Pengamat menilai, persoalan ini berakar pada sistem pengelolaan kebudayaan yang belum berpihak pada ekosistem.
Kebijakan yang ada cenderung bersifat administratif dan berorientasi pada kegiatan sesaat.
Program budaya sering hadir dalam bentuk acara seremonial tanpa kesinambungan.
Selain itu, ketiadaan sistem kuratorial membuat kegiatan seni berjalan tanpa arah. Tanpa perencanaan yang jelas, sulit menciptakan kualitas dan kontinuitas.
Peran lembaga independen seperti Dewan Kesenian juga belum optimal. Akibatnya, kebijakan budaya sering tidak melibatkan perspektif pelaku seni secara utuh.
Potensi Kota Belum Dimanfaatkan Maksimal
Sebagai pusat Jawa Timur, Surabaya memiliki potensi besar untuk menjadi kota budaya.
Keberadaan Taman Budaya Jawa Timur seharusnya mampu menjadi pusat integrasi berbagai budaya daerah.
Namun hingga kini, potensi tersebut belum dikelola dalam sistem yang terstruktur dan berkelanjutan.
Kegiatan budaya masih berjalan sporadis, belum mampu membentuk ekosistem yang kuat dan saling mendukung.
Dorongan Perubahan Menyeluruh
Pelaku seni dan pemerhati budaya mendesak adanya perubahan sistemik.
Mereka menilai, Surabaya membutuhkan kebijakan yang tidak hanya fokus pada event, tetapi juga pada proses dan keberlanjutan.
Pemerintah perlu menghadirkan kalender budaya yang jelas, membangun sistem kuratorial profesional, serta membuka ruang partisipasi yang luas bagi komunitas seni.
Selain itu, ruang budaya harus difungsikan sebagai pusat aktivitas harian—bukan hanya tempat acara insidental.
Mengembalikan Kehidupan Seni di Kota
Para seniman berharap, Surabaya dapat kembali menjadi kota panggung yang hidup. Mereka meyakini, dengan kebijakan yang tepat, ekosistem kebudayaan dapat bangkit kembali.
Surabaya memiliki sejarah panjang dalam melahirkan karya dan pelaku seni.
Namun tanpa langkah konkret, warisan tersebut terancam hilang.
Jika panggung seni terus menghilang, maka yang runtuh bukan hanya ruang pertunjukan, tetapi juga identitas budaya kota itu sendiri.(Dk/yud)
- Penulis: Teguh Priyono

>
>