Keracunan Massal di SMAN 2 Kudus, Ratusan Siswa dan Guru Terkena Dampak
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

ILUSTRASI
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kasus keracunan yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan peningkatan jumlah korban. Hingga saat ini, sebanyak 118 siswa dan guru mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG). Kejadian ini memicu kekhawatiran terhadap kualitas makanan yang diberikan oleh pihak pengelola.
Penyebaran Korban di Berbagai Rumah Sakit
Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus melaporkan bahwa korban keracunan tersebar di tujuh rumah sakit berbeda. Angka tersebut mencerminkan tingkat penyebaran yang cukup luas. Beberapa rumah sakit yang menjadi tempat perawatan antara lain:
- RSUD Loekmono Hadi Kudus: 28 orang
- RS Mardi Rahayu Kudus: 22 orang
- RS Sarkies Aisyiyah: 19 orang
- RSI Kudus: 14 orang
- RS Kumala Siwi: 13 orang
- RS Kartika: 9 orang
- RS Aisyiyah: 13 orang
Berdasarkan data ini, dapat disimpulkan bahwa kondisi kesehatan para korban masih memerlukan perhatian intensif dari tenaga medis.
Awal Mula Kejadian
Peristiwa ini bermula ketika guru-guru sekolah mengonsumsi menu MBG yang diterima dari SPPG Purwosari pada Rabu (28/1/2026), sekitar pukul 11.15 WIB. Setelah itu, makanan tersebut dibagikan kepada siswa dan guru sekitar pukul 11.45 WIB. Keluhan awal seperti sakit perut dan diare mulai muncul di kalangan guru, kemudian menyebar ke siswa.
Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Mustiko Wibowo, jumlah guru dan tenaga kependidikan di SMA Negeri 2 Kudus mencapai 98 orang, sedangkan jumlah siswa mencapai 1.178 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 600 siswa mengalami gejala serupa, meskipun sebagian besar memilih menjalani perawatan di rumah.
Tanggung Jawab Pihak Sekolah
Pihak sekolah langsung bertindak dengan memanggil perwakilan SPPG Purwosari untuk klarifikasi terkait menu makanan dan kondisi kesehatan makanan tersebut. Selain itu, sekolah juga mengumpulkan perwakilan kelas untuk pendataan siswa yang mengalami keluhan.
“Setiap kelas ada yang melaporkan 35 siswa sakit, ada yang 20, dan 17 siswa,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan Dwiyana. Ia menambahkan bahwa setelah merasa tidak mampu menangani sendiri, pihak sekolah meminta bantuan dokter puskesmas.
Respons Darurat dan Bantuan Medis
Petugas puskesmas bersama Dinas Kesehatan datang ke sekolah untuk membantu. Namun, karena kondisi sejumlah siswa terus memburuk, pihak sekolah meminta bantuan ambulans untuk merujuk siswa ke rumah sakit di Kabupaten Kudus.
Peran Menu Makanan dalam Kasus Ini
Menu MBG yang diterima sekolah dari SPPG Purwosari berupa soto ayam suwir, tempe, dan tauge. Meski makanan tersebut biasanya dianggap sehat, kasus ini menunjukkan pentingnya memastikan kualitas dan kebersihan makanan yang diberikan.
Langkah Pencegahan dan Evaluasi
Sebagai langkah pencegahan, pihak sekolah dan Dinas Kesehatan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses distribusi dan penyajian makanan. Selain itu, mereka juga akan memperkuat koordinasi dengan pihak pengelola dapur agar tidak terjadi kejadian serupa di masa depan.
Kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh institusi pendidikan untuk lebih waspada terhadap kualitas makanan yang diberikan kepada siswa dan staf. Dengan tindakan cepat dan kolaborasi yang baik, diharapkan kejadian serupa dapat diminimalkan.

>

Saat ini belum ada komentar