Kasus Super Flu Marak di Jatim, Komisi D DPRD Surabaya Minta Warga Waspada Tanpa Panik
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 5 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Dr. Zuhrotul Mar’ah
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Dr. Zuhrotul Mar’ah, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang belakangan dikenal sebagai super flu, menyusul tingginya kasus influenza A Subclade K di Jawa Timur yang tercatat sebagai salah satu provinsi dengan jumlah kasus terbanyak secara nasional.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga Ketua PUAN DPD Surabaya itu menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Menurutnya, super flu bukanlah penyakit baru, melainkan varian dari influenza A Subclade K dengan tingkat penularan yang relatif cepat.
“Sebenarnya super flu itu bukan istilah medis baru. Dari yang saya baca, itu adalah influenza A subclade K. Penyakit influenza juga, hanya penyebarannya lebih cepat,” jelas Dr Zuhro.
Rentan Menyerang Lansia dan Penderita Komorbid
Dr Zuhro menjelaskan, super flu umumnya tidak bersifat mematikan seperti wabah tertentu di masa lalu. Namun demikian, kelompok dengan daya tahan tubuh rendah tetap perlu mendapat perhatian serius.
“Yang paling rentan itu golongan lansia, anak-anak, serta orang dengan penyakit komorbid seperti diabetes melitus, HIV, TBC, dan penyakit lain yang menurunkan imunitas,” ujarnya.
Gejala super flu, lanjutnya, hampir serupa dengan influenza biasa, seperti demam, pilek, batuk, dan rasa lemas. Risiko penularan meningkat terutama pada orang yang baru melakukan perjalanan jauh dan mengalami kelelahan fisik.
“Kalau habis bepergian, capek, pola makan tidak teratur dan gizinya kurang seimbang, itu rentan sekali terkena infeksi, termasuk influenza,” katanya.
Jangan Panik, Ketenangan Bagian dari Pengobatan
Menanggapi posisi Jawa Timur yang termasuk delapan provinsi dengan jumlah kasus influenza terbanyak, Dr Zuhro kembali menekankan pentingnya menjaga ketenangan mental.
“Kita tidak boleh panik. Ketenangan itu hampir 50 persen dari pengobatan. Kalau kita panik, tubuh justru mengeluarkan hormon stres yang menurunkan imunitas,” ungkapnya.
Ia menilai, sikap tenang dan waspada justru membantu tubuh membangun perlindungan alami terhadap infeksi.
Masker, Gizi Seimbang, dan Istirahat Cukup
Sebagai langkah pencegahan, Dr Zuhro mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan perilaku hidup sehat, terutama pascaliburan yang identik dengan mobilitas tinggi.
“Kalau sudah ada gejala, wajib pakai masker. Kalau tidak ada gejala tapi berada dekat orang yang sakit, tetap pakai masker,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga asupan cairan dan pola makan bergizi seimbang.
“Makan harus lengkap, ada karbohidrat, protein, sayur, dan buah. Vitamin dan mineral itu penting untuk membentuk imunitas,” jelasnya.
Ia juga menyarankan masyarakat mengurangi konsumsi makanan berminyak dan olahan berlebihan.
“Saya menyarankan jangan sering makan gorengan. Lebih baik makanan direbus, dalam bentuk asli, tidak banyak proses, karena proses berlebihan menurunkan nilai nutrisi,” katanya.
Dinkes Diminta Tetap Proaktif, Warga Lakukan Screening Mandiri
Dr Zuhro menambahkan, Dinas Kesehatan sebenarnya telah mengantisipasi potensi lonjakan kasus melalui sistem skrining, baik untuk pasien BPJS maupun pasien umum.
“Dinas kesehatan sudah mengantisipasi. Masyarakat juga harus proaktif, melakukan screening mandiri, dan kalau ada gejala segera ke puskesmas terdekat,” ujarnya.
Komisi D DPRD Surabaya: Skrining Mandiri Merubah Pola Perilaku
Ia menyebutkan sosialisasi terkait skrining kesehatan sudah banyak beredar di lingkungan masyarakat, termasuk melalui grup WhatsApp warga.
“Informasi itu sebenarnya sudah banyak. Tinggal masyarakat mau melaksanakan atau tidak, dan mau mengubah pola perilaku atau tidak,” pungkas Dr Zuhro.***

>
>
>
