Momen Akhir 2025, BHS: Wisata Surabaya Jangan Jalan di Tempat, Ubah Strategi Saatnya Jadi Hub Jatim
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 22 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kapoksi Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (dk)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Minimnya optimalisasi pengelolaan wahana wisata milik Pemerintah Kota Surabaya kembali menjadi sorotan. Selain belum berdampak signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), keberadaan destinasi wisata Surabaya tersebut juga dinilai belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kota Pahlawan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Komisi VII DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS), menyebut Surabaya memang memiliki keterbatasan destinasi wisata alam, namun justru menyimpan potensi besar sebagai pusat atau hub pariwisata Jawa Timur.
“Jadi gini, wisata di Kota Surabaya ini memang terbatas. Tapi Surabaya ini bisa menjadi hub daripada wilayah-wilayah pariwisata yang ada di Jawa Timur,” ujar BHS saat dimintai pandangan terkait pengelolaan pariwisata kota Surabaya saat kunjungan reses di RW 4 Kelurahan Kedurus, Kecamatan Karangpilang, Senin, (22/12/2025).
Menurutnya, posisi strategis Surabaya sangat memungkinkan menjadi titik kumpul wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan wisata di Jawa Timur.
“Surabaya bisa menjadi tempat berkumpulnya wisatawan, baik domestik maupun internasional, untuk menuju ke wilayah-wilayah yang memang tempat wisata. Dan menginapnya di Surabaya, berwisatanya ke beberapa daerah,” jelasnya.
BHS menambahkan, jarak Surabaya dengan berbagai destinasi unggulan di Jawa Timur relatif dekat dan didukung infrastruktur transportasi yang memadai. Selain itu, ketersediaan hotel di Surabaya dinilai sangat menunjang konsep tersebut.
“Jumlah hotel yang ada di Surabaya itu sangat banyak, bervariasi dan murah harganya. Ini sangat mendukung pariwisata Jawa Timur sendiri maupun sektor pariwisata yang ada di Surabaya,” tegas anggota DPR RI Dapil Jawa Timur I itu.
Lebih jauh, BHS menekankan pentingnya penguatan sektor UMKM dan kuliner sebagai identitas wisata khas Surabaya. Ia menilai, jika dikelola secara serius, wisata kuliner dapat menjadi daya tarik utama yang tidak kalah dengan wisata alam.
“Makanya apa? Kuliner yang ada di Surabaya. Kuatkan UMKM yang ada di Surabaya, kuatkan. Sehingga Surabaya bisa menjadi basis wisata UMKM, wisata kuliner yang ada di Jawa Timur,” paparnya.
Menurutnya, ketika konsep wisata berbasis UMKM dan kuliner berhasil dijalankan, maka Surabaya sejatinya telah memiliki ekosistem pariwisata yang kuat.
“Kalau itu bisa berhasil, ya sama dengan ada pariwisata. Tidak gagal,” tandasnya.
Cak YeBe: Wisata Surabaya Berani Ambil Langkah Terobosan
Sejalan dengan pandangan tersebut, dorongan agar Pemerintah Kota Surabaya berani mengambil langkah terobosan juga menguat di tingkat lokal. Salah satu anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko yang akrab disapa Cak Yebe ini, menilai sudah saatnya pemkot menjawab tantangan pengelolaan pariwisata dengan keberanian dan pendekatan yang lebih profesional.
Menurutnya, optimalisasi wahana wisata milik pemkot tidak bisa lagi dilakukan secara konvensional, melainkan harus dieksplorasi secara serius agar mampu menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang efektif. Selain itu, pengelolaan yang inovatif juga dinilai penting untuk menjadikan wahana-wahana tersebut sebagai daya tarik wisatawan sekaligus kebanggaan warga.
“Ini soal keberanian Pemkot menjawab tantangan untuk mengoptimalkan dan mengeksplorasi secara lebih profesional wahana wisata milik pemkot, agar bisa menjadi sumber PAD sekaligus ikon-ikon kebanggaan Kota Surabaya,” tegas Cak Yebe.
Ia menambahkan, di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, kreativitas dan inovasi daerah menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap hidup dan memberi dampak nyata bagi perekonomian kota. ***

>
>
>
