Anomali Cuaca dan Pasang Laut Hambat Pompa, DSDABM Surabaya Gerak Cepat Atasi Genangan di Sejumlah Wilayah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 5 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(humas)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Surabaya sejak subuh pada Senin (22/6/2026) kemarin. Akibat curah hujan yang lebat, sejumlah kawasan di Kota Pahlawan sempat tergenang air. Kendati demikian, intervensi cepat yang dilakukan oleh jajaran pemerintah kota membuat beberapa titik genangan utama dilaporkan telah menunjukkan tren penurunan yang signifikan hingga pukul 09.00 WIB.
Kepala Bidang Drainase Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Adi Gunita, menjelaskan bahwa proses surutnya air di beberapa kawasan berjalan secara bertahap. Hal ini disebabkan oleh kendala hidrologis, di mana sistem drainase kota harus berhadapan langsung dengan fenomena alam di pesisir.
“Beberapa titik seperti di Tanjungsari, Tambak Mayor, memang pelan surutnya. Karena memang arahnya ke Kali Greges. Kali Greges (elevasi) lagi naik, pengaruh dari pasang air laut,” kata Adi Gunita memberikan keterangan pada Senin (22/6/2026).
DSDABM Surabaya: Fenomena Backwater dan Tantangan Rumah Pompa
Menurut analisis DSDABM, pasang air laut yang terjadi sejak dini hari menjadi faktor pemblokir utama yang menghambat laju pembuangan air dari hilir drainase kota menuju laut. Tingginya permukaan air laut otomatis menahan air hujan yang dialirkan, sehingga kapasitas rumah pompa di wilayah pesisir belum mampu digenjot secara maksimal demi menghindari kerusakan sistem akibat tekanan balik (backwater).
Adi menjelaskan, kondisi pasang air laut tersebut diproyeksikan bertahan hingga melewati waktu Dzuhur dan baru akan melandai menjelang sore hari. Walau efektivitasnya terbatas akibat fenomena alam ini, seluruh rumah pompa di titik-titik rawan dipastikan tetap siaga dan beroperasi.
“Tetap jalan, cuma kan posisinya kalau kita pompa otomatis kan backwater kembali ya. Jadi kita optimalkan (rumah pompa), kalau memang (air laut) sudah surut, otomatis nanti kinerja pompanya kita optimalkan kembali,” paparnya.
Mitigasi Saluran dan Tantangan Anomali Cuaca Juni
Berdasarkan data meteorologis, hujan lebat di akhir bulan Juni ini tergolong sebagai fenomena anomali cuaca. Secara siklus tahunan, periode Juni–Juli seharusnya menjadi masa transisi di mana Surabaya sudah memasuki musim kemarau kering. Kenaikan muka air laut yang terjadi bersamaan dengan hujan deras inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Untuk mengantisipasi sumbatan fisik yang bisa memperparah genangan di tengah anomali ini, satgas DSDABM diterjunkan langsung menyisir gorong-gorong dan saluran drainase makro kota.
“Kami cek kondisi-kondisi saluran, barangkali ada penyumbatan. Terlebih saat ini juga kan kondisinya sudah mulai kerja proyek-proyek, takutnya ada penyumbatan material yang memperlambat aliran air,” tegas Adi.
Kolaborasi Lintas Dinas dan Titik Pantauan Genangan
Meskipun dihambat pasang laut, pantauan visual DSDABM hingga pukul 09.00 WIB menunjukkan indikator positif di beberapa jalan protokol pusat kota. Kawasan seperti Jalan Imam Bonjol, Jalan Kartini, hingga wilayah Ngagel dilaporkan sudah mulai mengalami penurunan tinggi genangan.
Penurunan ini juga terkonfirmasi dari alat ukur elevasi di wilayah utara. Muka air di kawasan Greges dan Petekan yang pada dini hari sempat menyentuh angka kritis mendekati 200 sentimeter, perlahan mulai berangsur turun ke angka 180 hingga 170 sentimeter.
| Kawasan Fokus Penanganan | Status Elevasi / Penanganan |
| Jalan Imam Bonjol & Jalan Kartini | Relatif aman, genangan mulai surut cepat |
| Ngagel & Bratang | Mengalami penurunan elevasi, dibantu mobil penyedot |
| Tanjungsari & Tambak Mayor | Surut bertahap, fokus pemompaan arah Kali Greges |
| Kyai Tambak Deres | Penanganan intensif pengerahan armada gabungan |
Untuk mempercepat penanganan genangan di daerah yang memiliki elevasi rendah, DSDABM tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya dengan mengerahkan sejumlah armada mobil pemadam penyedot air (pos-fire pumper) langsung ke lokasi terdampak.
Langkah taktis pengerahan unit mobile pump gabungan ini difokuskan di lima wilayah krusial, yakni Tanjungsari, Tambak Mayor, Kyai Tambak Deres, Ngagel, serta kawasan Bratang guna memastikan aktivitas ekonomi dan mobilitas warga Surabaya kembali berjalan normal.***

>
