Mekanisme Pengujian Perlinsos Digital Surabaya Berbasis Verifikasi Wajah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya kini menjadi salah satu kota percontohan dalam penerapan sistem bantuan sosial berbasis teknologi. Pemerintah Kota Surabaya bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI menguji coba program Perlindungan Sosial Digital Terintegrasi (Perlinsos Digital). Program ini bertujuan meningkatkan akurasi penyaluran bansos melalui integrasi data kependudukan, verifikasi biometrik, serta penggunaan identitas digital.
Mekanisme Pengujian Perlinsos Digital
Uji coba dilakukan di kawasan Jalan Ketandan Lor dan Kantor Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng. Warga yang masuk kategori Desil 1 hingga Desil 4 menjadi fokus utama karena merupakan lapisan masyarakat yang selama ini menjadi prioritas penerima bantuan. Proses pendaftaran dilakukan dengan pendampingan petugas, sambil mencoba fitur-fitur inti dari sistem tersebut.
Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya Komdigi RI, Wijayakusuma Wardana, menjelaskan bahwa tujuan utama dari digitalisasi adalah memastikan bantuan benar-benar diterima oleh warga yang berhak. Sistem akan melakukan verifikasi identitas melalui pengenalan wajah sekaligus membandingkan data penerima dengan basis data pemerintah.
Tantangan Teknis dan Solusi
Meski terdapat beberapa kendala teknis pada aplikasi, hasil evaluasi lapangan menunjukkan bahwa masalah tersebut dapat segera diatasi. Pemerintah pusat menilai fase uji coba ini penting untuk menyempurnakan sistem sebelum diterapkan secara lebih luas.
Perubahan Mendasar dalam Seleksi Penerima Bansos
Sebelumnya, proses seleksi banyak bergantung pada usulan tingkat RT, RW, dan musyawarah kelurahan. Kini, kelayakan penerima akan diuji melalui integrasi data kependudukan nasional yang terhubung dengan berbagai kementerian dan lembaga.
Pelaksana Harian Direktur Integrasi Data Kependudukan Nasional Direktorat Jenderal Dukcapil Kemendagri, Mensuseno, menjelaskan bahwa warga dapat mengakses layanan secara mandiri melalui portal Perlinsos Digital menggunakan Identitas Kependudukan Digital (IKD). Sistem kemudian melakukan autentikasi berlapis, mulai dari validasi NIK hingga verifikasi biometrik wajah yang terhubung dengan data Dukcapil.
Akses yang Lebih Inklusif
Kepala Diskominfo Kota Surabaya, Eddy Christijanto, memastikan bahwa tidak semua warga harus memiliki telepon pintar atau akun IKD untuk mengikuti program tersebut. Pemkot telah menyiapkan sekitar 12.500 agen pendamping yang terdiri dari ketua RT, ketua RW, hingga aparatur sipil negara untuk membantu proses pendaftaran.
Keuntungan dan Mekanisme Koreksi
Keunggulan utama dari Perlinsos Digital terletak pada kemampuannya mengidentifikasi kondisi ekonomi calon penerima secara lebih objektif. Data yang terhubung dengan berbagai instansi memungkinkan sistem mendeteksi kepemilikan aset yang berpotensi memengaruhi status kelayakan bantuan.
Namun pemerintah juga membuka ruang koreksi. Apabila data yang muncul tidak sesuai kondisi riil, warga dapat mengajukan sanggahan dengan melampirkan keterangan pendukung. Mekanisme ini dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga akurasi sekaligus memastikan keadilan dalam distribusi bantuan sosial.
Potensi Standar Baru Bantuan Sosial Nasional
Dengan model baru tersebut, Surabaya kini menjadi arena pembuktian apakah teknologi dan integrasi data mampu menjawab persoalan klasik penyaluran bansos: salah sasaran, ketidakakuratan data, hingga munculnya kecemburuan sosial di tingkat masyarakat. Jika berhasil, Perlinsos Digital berpotensi menjadi standar baru tata kelola bantuan sosial nasional yang lebih transparan, tepat sasaran, dan akuntabel.***

>

Saat ini belum ada komentar