BI Buka Suara Mata Uang Paman Sam Hampir Sentuh Rp 18.000
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dengan posisi mata uang Paman Sam kini hampir menyentuh level Rp 18.000. Situasi ini memicu respons dari Bank Indonesia (BI) yang akhirnya angkat bicara untuk menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan pasar keuangan baik secara global maupun domestik. Selain itu, BI juga akan mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah dan meningkatkan ketahanan eksternal perekonomian.
“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” jelas Denny dalam pernyataannya.
Beberapa kebijakan telah diambil oleh BI sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Mulai 2 Juni 2026, BI memberlakukan aturan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$ 25.000 per pelaku per bulan. Aturan ini bertujuan untuk mencegah spekulasi berlebihan di pasar valuta asing.
Selain itu, BI juga aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Skema ini telah dilakukan dengan sejumlah negara seperti Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab. Tujuannya adalah untuk memitigasi risiko volatilitas nilai tukar dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Dalam keterangannya, Denny menekankan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi tanggung jawab BI, tetapi juga memerlukan sinergi dari berbagai pemangku kepentingan. Koordinasi antara BI, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar sangat penting untuk memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara optimal.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa dolar AS pada siang ini menguat 0,68% ke level Rp 17.960. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Selasa (2/6), dolar AS ditutup pada level Rp 17.839. Angka ini menunjukkan tren pelemahan rupiah yang terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
Langkah-Langkah BI untuk Menjaga Stabilitas Rupiah
- Pemantauan Pasar: BI terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik.
- Instrumen Kebijakan Moneter: Mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar.
- Penerapan Threshold Tunai: Membatasi pembelian valas tunai tanpa underlying menjadi US$ 25.000 per pelaku per bulan.
- Penggunaan Mata Uang Lokal: Mendorong penggunaan rupiah dalam kerja sama bilateral melalui LCT.
- Koordinasi Pemangku Kepentingan: Memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku pasar.
Dengan langkah-langkah tersebut, BI berharap dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah situasi yang dinamis.***

>

Saat ini belum ada komentar