3 Rumah Pompa Baru Direspons Positif, Surabaya Berupaya Bebas Banjir
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemkot Surabaya terus memperkuat sistem pengendalian banjir melalui pembangunan infrastruktur. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pemasangan tiga rumah pompa baru di kawasan Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani. Proyek ini diharapkan mampu mengurangi genangan air di wilayah Surabaya Selatan dan Timur.
Strategi Penanganan Banjir yang Terarah
Pembangunan tiga rumah pompa baru dilakukan sebagai bagian dari upaya Pemkot Surabaya untuk menuntaskan masalah banjir secara bertahap. Masing-masing rumah pompa memiliki kapasitas 6,5 meter kubik per detik dan dilengkapi tiga unit pompa serta screen penyaring sampah. Langkah ini dinilai efektif dalam mempercepat surutnya air dan mengurangi beban saluran di kawasan padat pemukiman.
Peran Wali Kota dalam Penguatan Sistem Pengendalian Banjir
Dalam tinjauannya ke Rumah Pompa Dukuh Menanggal, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan bahwa penanganan banjir di wilayah selatan dan timur menjadi prioritas utama. Ia menjelaskan bahwa penyelesaian masalah banjir tidak hanya berfokus pada pembangunan rumah pompa, tetapi juga pengerukan saluran, pengaturan elevasi air, dan pembangunan storage atau box penampungan air.
“Tujuan kami adalah menuntaskan banjir di tahun 2026,” ujar Eri.
Pembagian Aliran Air untuk Efisiensi Sistem
Salah satu tantangan utama dalam penanganan banjir adalah distribusi aliran air yang tidak proporsional. Eri menjelaskan bahwa aliran dari kawasan Karah dan Jambangan bermuara ke Avour Wonorejo, sehingga menyebabkan genangan di Margorejo. Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Surabaya memanfaatkan saluran Kebon Agung yang memiliki kapasitas lebih besar.
“Pemindahan aliran dari Margorejo ke Kebon Agung akan membuat beban air lebih merata,” tambahnya.
Teknis Pengukuran Elevasi dan Pemetaan Aliran Air
Eri menekankan pentingnya pemetaan aliran air dalam penanganan banjir. Para camat dan lurah diminta memahami teknis pengukuran elevasi menggunakan alat seperti theodolite dan waterpass. Hal ini diperlukan agar aliran air dapat diatur dengan tepat dan sistem pengendalian banjir berjalan optimal.
Penyesuaian Metode Pembangunan Berdasarkan Kondisi Wilayah
Selain membangun rumah pompa baru, Pemkot Surabaya juga menyesuaikan metode pembangunan sesuai kondisi saluran di wilayah timur. Di kawasan Jemursari sampai Sarono Jiwo, pembangunan dilakukan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP). Sementara itu, di Panjang Jiwo, pelebaran saluran tidak memungkinkan karena adanya jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt.
Untuk mengatasi hal ini, Pemkot Surabaya akan membangun storage air di jalan sebagai solusi alternatif.
Peran Masyarakat dalam Menjaga Kebersihan Saluran Air
Meski infrastruktur telah dibangun, keberhasilan penanganan banjir tidak hanya bergantung pada teknologi. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air.
“Tolong jangan buang sampah di saluran, karena jika sampah menumpuk di penyaringan rumah pompa, proses penyedotan air otomatis akan terhambat,” ajaknya.
Capaian Tahun 2026 dan Target Jangka Pendek
Eri optimistis titik-titik genangan yang saat ini menjadi fokus penanganan dapat bebas banjir pada November 2026. Ia menjelaskan bahwa langkah penanganan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka pendek untuk mengatasi genangan di wilayah selatan dan timur.
“Insyaallah bulan November kalaupun terjadi hujan, maka titik-titik yang telah kita datangi, tidak terjadi lagi genangan,” harapnya.
Tambahnya Rumah Pompa di Titik Rawan
Seiring perkembangan wilayah, Pemkot Surabaya juga akan membangun rumah pompa baru di sejumlah titik rawan genangan, seperti Panjang Jiwo dan Jalan Nginden Intan Timur. Proyek ini dilakukan sebagai upaya untuk memastikan distribusi aliran air tetap merata dan mengurangi risiko banjir.
Infrastruktur yang Mendukung Kehidupan Kota
Hingga saat ini, Surabaya memiliki total 90 rumah pompa yang tersebar di berbagai wilayah. Pemkot Surabaya berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas rumah pompa yang sudah ada, serta membangun rumah pompa baru di kawasan padat.
Dengan kombinasi infrastruktur, teknologi, dan partisipasi masyarakat, Surabaya semakin dekat dengan tujuannya untuk menjadi kota bebas banjir. Tiga rumah pompa baru yang telah beroperasi menunjukkan hasil nyata, dan langkah-langkah strategis lainnya akan terus dilakukan untuk memastikan kesejahteraan warga.***

>
>

Saat ini belum ada komentar