ITS Surabaya Gelar Diskusi Film “Pesta Babi” untuk Kajian Agraria dan Keadilan Sosial
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 15 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ITS Surabaya)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar kegiatan diskusi film dan bedah film dokumenter Pesta Babi sebagai bagian dari pengayaan mata kuliah Kajian Agraria. Kegiatan ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Studi Pembangunan (HIMADEV) ITS dan bertujuan untuk memperkaya pemahaman mahasiswa tentang konflik agraria serta kebijakan publik.
Kehadiran Film “Pesta Babi” dalam Pergelaran Akademik
Film dokumenter Pesta Babi menjadi bahan kajian penting dalam konteks pembangunan di Indonesia, terutama di wilayah Papua. Dosen Studi Pembangunan ITS, Khairun Nisa SIP MA, menjelaskan bahwa film ini memberikan studi kasus yang relevan untuk mengevaluasi kebijakan strategis nasional. Ia menekankan bahwa setiap kebijakan publik harus dirumuskan melalui pendekatan bottom-up, bukan hanya dari atas.
“Kebijakan tidak bisa hanya dinilai dari sisi ekonomis, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai moral, sosial, budaya, dan keadilan bagi masyarakat,” ujarnya.
Tiga Dimensi Keadilan dalam Pembangunan
Khairun Nisa merujuk pada konsep Nancy Fraser untuk menjelaskan tiga dimensi keadilan yang perlu dipenuhi dalam pembangunan. Di antaranya:
- Keadilan distribusi, yaitu pemerataan hasil pembangunan.
- Keadilan representasi, yakni keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan.
- Keadilan rekognisi, yang berarti pengakuan terhadap identitas dan hak masyarakat lokal.
Ia menilai bahwa film ini sangat relevan sebagai studi kasus untuk menilai sejauh mana kebijakan nasional memenuhi ketiga dimensi tersebut.
Peran Kampus dalam Menjaga Kebebasan Berpikir
Di sisi lain, jurnalis Ambrosius Harto Manumoyoso menilai bahwa film dokumenter investigatif seperti Pesta Babi seringkali bersifat provokatif. Namun, ia menegaskan bahwa provokasi di sini bukan untuk menyulut emosi, tetapi untuk mendorong publik menentukan sikap terhadap suatu persoalan.
“Segala bentuk intervensi terhadap kebebasan berpikir justru dapat melemahkan marwah akademik itu sendiri,” pungkasnya.
Komitmen ITS untuk Lulusan yang Berkualitas
Melalui forum diskusi ini, ITS menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan yang tidak hanya mumpuni secara teknokratis, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial dalam membaca dinamika pembangunan di tanah air.
Langkah Penting untuk Masa Depan Kebijakan
Dosen dan narasumber sepakat bahwa kegiatan ini menjadi langkah penting dalam membangun pola pikir kritis dan argumentasi yang kuat bagi mahasiswa. Mereka berharap, nantinya para lulusan akan mampu menjadi pengambil kebijakan yang lebih bijak dan inklusif.
Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat wawasan akademik sekaligus menjaga marwah kebebasan berpikir di lingkungan kampus.***

>
>

Saat ini belum ada komentar