Try Sutrisno Meninggal, Didik J. Rachbini: RI Kehilangan Lagi Tokoh Nasional
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Momen duka kembali menyelimuti bangsa Indonesia dengan kepergian salah satu tokoh penting, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno. Ia meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, pada Senin (2/3/2026) pagi. Dalam perjalanan hidupnya, Try Sutrisno dikenal sebagai sosok yang memiliki kontribusi besar dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.
Penghargaan dari Tokoh Akademis
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, memberikan penghormatan tinggi terhadap sosok Try Sutrisno. Ia mengungkapkan bahwa meskipun tidak saling bersahabat dekat, hubungan antara dirinya dan Try Sutrisno selalu penuh kehangatan. Setiap kali bertemu, Try Sutrisno selalu menepuk punggungnya seakan sudah saling akrab.
“Beliau selalu menyapa dengan senyum. Dugaan saya, pasti beliau mendengarkan kritik anak-anak muda di publik melalui media massa pada tahun 1990-an sehingga memperhatikan siapa yang sering tampil di publik menyampaikan gagasan,” katanya.
Pandangan tentang Pancasila dan Demokrasi
Didik J. Rachbini juga menyampaikan pendapatnya tentang kritik-kritik yang dilontarkan oleh Try Sutrisno. Menurutnya, pandangan-pandangan tersebut sangat penting untuk dipertimbangkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
“Pancasila telah memudar dan tidak dijadikan dasar dalam UUD NRI 1945. Fakta ini terlihat jelas terjadi inkonsestensi dan inkoherensi dengan Pembukaan UUD 1945,” ujarnya.
Try Sutrisno menilai bahwa demokrasi yang dijalankan saat ini cenderung liberal dan lebih liberal dari sistem yang berlaku di Amerika Serikat. Ia menekankan bahwa reformasi harus berakar pada nilai diri bangsa Indonesia, bukan sekadar perubahan yang terpengaruh oleh gelombang luar liberalisasi.
Kritik terhadap Sistem Ketatanegaraan
Menurut Didik J. Rachbini, kehilangan pilar musyawarah bangsa di dalam ketatanegaraan kita adalah hal yang disayangkan. Lenyapnya MPR sebagai lembaga tertinggi negara telah mengubah cara pengambilan keputusan dalam politik.
“Sekarang arah arah politik dibuat oleh partai politik yang ritme kehidupannya hanya berjangka pendek untuk menang setiap lima tahunan,” ujarnya.
Ia menilai bahwa kritik negarawan senior ini perlu direnungkan sebagai diskursus penting dalam kehidupan bernegara. Menurutnya, saat ini tidak lagi ada pemimpin negarawan seperti Bung Karno, Hatta, atau Sjahrir.
Peran Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa
Didik J. Rachbini menekankan bahwa praktik demokrasi tidak seharusnya melemahkan nilai-nilai moral, etika, dan falsafah Pancasila. Dalam pandangan Try Sutrisno, demokrasi hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan kemerdekaan dan bukan tujuan akhir kehidupan bernegara.
“Untuk bangsa yang besar seperti Indonesia, evaluasi dan tinjauan kembali terhadap praktik demokrasi dan kehidupan berbangsa sangat diperlukan agar sesuai dengan nilai dasar dan karakter bangsa Indonesia,” ujarnya.
Dengan sistem liberal yang ada saat ini, tidak diharapkan menghasilkan pemimpin yang baik untuk bangsa karena semuanya serba transaksi untuk kepentingan jangka pendek. Kritik-kritik yang dilontarkan oleh Try Sutrisno menjadi renungan penting bagi generasi muda dan para pemimpin bangsa.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar