Ringkasan Berita:
- Pembangunan lima rumah pompa pengendali banjir di Surabaya telah mencapai 85–90 persen dan dijadwalkan masuk tahap uji coba (commissioning) pada 20 November 2026.
- Pemkot Surabaya mengebut pembangunan shortcut saluran di kawasan Gereja Betani berkapasitas 23 meter kubik per detik guna memangkas durasi genangan Semolowaru.
- Wali Kota Eri Cahyadi dijadwalkan menginspeksi langsung kesiapan operasional seluruh pompa pada 1 Desember 2026 sebelum musim hujan memuncak.
DIAGRAMKOTA.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mempercepat penguatan infrastruktur pengendali banjir menyusul kian dekatnya peningkatan intensitas curah hujan pada Desember 2026. Melalui akselerasi di lapangan, proyek pembangunan lima rumah pompa baru serta rekayasa jaringan drainase strategis ditargetkan rampung dan siap beroperasi penuh sebelum cuaca ekstrem melanda.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, membeberkan bahwa progres fisik lima rumah pompa yang menjadi prioritas utama pemkot saat ini telah menyentuh angka 85 hingga 90 persen. Sebagian besar instalasi mesin pompa air bersama konstruksi pipa pembuangan utama sudah terpasang kokoh di lokasi.
“Pekerjaan rumah pompa kita itu rata-rata sudah 85 persen. Pompa itu sudah ada di sana, dan juga pipa sudah terpasang. Kebanyakan seperti itu,” papar Hidayat saat memberikan keterangan resmi, Jumat (6/11/2026).
Adapun sebaran lima fasilitas pengendali air tersebut tersebar di simpul-simpul krusial Kota Pahlawan, yakni kawasan Nginden Intan Timur persis di depan kampus Stikosa AWS, Panjang Jiwo, Tambak Segaran, Dharmahusada, serta Tanjungsari. Khusus di area Tanjungsari, proyek diperkuat dengan pembangunan bozem (waduk penampung air) dan tambahan satu unit pompa terpisah di titik pertigaan.
Jadwal Commissioning 20 November, Siap Dicek Wali Kota Eri Cahyadi
DSDABM Surabaya menetapkan tenggat waktu pengerjaan fisik tuntas pada 20 November 2026. Setelah konstruksi rampung, seluruh sistem mekanikal dan elektrikal bakal langsung melalui tahap commissioning atau pengujian beban alir secara menyeluruh guna memastikan keandalan pompa.
“Dan kita berharap tanggal 20 November ini sudah mulai commissioning. Supaya nanti pada saat 1 Desember, Pak Wali sudah mulai keliling untuk mencoba benar-benar apakah pompanya berfungsi atau tidak,” terang Hidayat.
Langkah percepatan ini menuntut ketelitian teknis tinggi karena melibatkan peremajaan jaringan pipa berdimensi masif. DSDABM memasang pipa bawah tanah dengan kapasitas sedot mencapai 3 hingga 5 meter kubik per detik, melonjak tajam dibanding kapasitas lama yang hanya berkisar 1 sampai 2 meter kubik per detik.
Karena pemasangan pipa debit raksasa mengharuskan penggalian badan jalan, Hidayat memastikan tim teknis terus menyesuaikan ritme kerja dengan arus mobilitas warga setempat serta agenda peribadatan lingkungan tanpa mengendurkan target waktu penyelesaian.
Shortcut Saluran Gereja Betani: Pangkas Genangan 5 Jam Menuju Sungai Jagir
Selain fokus merampungkan rumah pompa, Pemkot Surabaya juga merekayasa jalur pembuangan air melalui proyek shortcut (saluran pintas) di kawasan Gereja Betani. Jalur pintas ini menjadi jawaban atas keluhan menahun warga Semolowaru, Nginden, dan kawasan sekitarnya yang kerap terendam genangan air hingga lima jam akibat panjangnya rute saluran pembuangan menuju hilir.
Alih-alih menempatkan rumah pompa di setiap saluran pemukiman yang berbiaya sangat tinggi, pemkot memilih mengintegrasikan tiga saluran air sekaligus lewat satu trase pintasan yang langsung diarahkan ke Sungai Jagir.
“Kalau tidak, kita terpaksa tiga saluran itu kita kasih rumah pompa semua. Itu juga biayanya lebih tinggi. Jadi kita ambil, tarik, dan shortcut-kan semua ke sana,” ungkap Hidayat.
Proyek terintegrasi ini ditopang oleh instalasi pintu air di saluran Semolowaru dan saluran box culvert beton modern dengan daya tampung limpasan mencapai 23 meter kubik per detik. Pemilihan rute ini merupakan hasil kajian komprehensif bersama akademisi perguruan tinggi terkemuka serta didukung penuh oleh pengurus Gereja Betani yang merelakan sebagian kawasannya dimanfaatkan untuk trase drainase publik.
“Harusnya pekerjaan ini selesai tahun depan, tetapi kami kebut karena Pak Wali memang meminta tahun ini harus selesai. Alhamdulillah, pihak kontraktor konsisten dan pihak Gereja Betani juga memberikan dukungan,” pungkasnya.




















