Ringkasan Berita:
- Kota Surabaya menyemarakkan Hari Pahlawan lewat Parade Juang 2026 bertema “Suroboyo Wani” rute Tugu Pahlawan–Alun-Alun, Minggu (1/11/2026).
- Wali Kota Eri Cahyadi menegaskan makna kemerdekaan hakiki masa kini adalah menuntaskan problem kemiskinan dan anak putus sekolah.
- Semua elemen warga, Pemkot, dan Forkopimda diserukan melepas ego demi meraih persatuan dan kesejahteraan bersama.
DIAGRAMKOTA.COM — Ribuan warga tumpah ruah memadati poros jalan dari kawasan Tugu Pahlawan menuju Alun-Alun Kota Surabaya pada Minggu (1/11/2026). Dentum semangat patriotisme kembali dihidupkan melalui gelaran tahunan Parade Juang 2026 yang mengusung tema besar “Suroboyo Wani” guna menyemarakkan peringatan Hari Pahlawan.
Agenda kultural dan historis yang dibuka langsung oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, tersebut menyuguhkan reka ulang heroisme pertempuran 10 November berpadu ragam atraksi seni budaya. Sepanjang jalur protokol, warga menyaksikan parade teatrikal, iring-iringan veteran, komunitas pegiat sejarah, hingga atraksi drumband yang membakar memori kolektif kepahlawanan kota ini.
Pergeseran Medan Juang: Melawan Kemiskinan dan Kebodohan
Dalam orasi kebangsaannya, Wali Kota Eri Cahyadi mengingatkan kembali keteguhan sikap Arek-Arek Surabaya masa revolusi yang berhasil memukul mundur pasukan sekutu hingga menewaskan pimpinan militer Inggris, Brigadir Jenderal Mallaby. Kendati demikian, Eri memberikan penekanan tajam bahwa gelanggang pertempuran hari ini tidak lagi berupa kontak senjata fisik, melainkan masalah sosial dan kemanusiaan yang masih membayangi warga.
“Arek-arek Surabaya, hari ini kita memperingati 10 November. Itu adalah hari perjuangan bagaimana Arek-arek Surabaya memukul mundur sekutu dan menewaskan Mallaby. Maka perjuangan Arek-arek Surabaya jangan pernah kita lupakan. Selagi ada kemiskinan, selagi masih ada anak putus sekolah, maka kita belum merdeka,” tegas Eri pada Minggu (1/11/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan orientasi pembangunan kota: tolok ukur kemerdekaan hakiki bagi Kota Pahlawan diukur dari keterentasan problem kerentanan sosial, jaminan pendidikan anak, serta perbaikan taraf hidup masyarakat lapis bawah.
Ujian Kolektif: Menekan Ego Demi Kesejahteraan Warga
Lebih lanjut, Eri menekankan bahwa tantangan perkotaan yang kompleks mustahil diurai tanpa kohesi sosial yang solid. Ia menyerukan pentingnya rasa kekeluargaan, kebersamaan, dan toleransi antarwarga sembari mendesak semua pihak menanggalkan klaim keunggulan sepihak.
“Kita bisa merdeka seutuhnya jikalau seluruh rakyat Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya, Forkopimda Kota Surabaya, dan seluruh stakeholder yang ada di Kota Surabaya bersatu tanpa mengatakan siapa yang terbaik di antara kita, tanpa mengatakan siapa yang paling utama di antara kita,” imbuhnya.
Parade Juang 2026: Soliditas Menuju Kemerdekaan Seutuhnya
Bagi Pemerintah Kota Surabaya, integrasi langkah antara rakyat, birokrasi, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merupakan fondasi utama untuk mencapai stabilitas sosial-ekonomi. Eri menutup orasinya dengan menggarisbawahi bahwa target utama dari persatuan ini adalah pencapaian kesejahteraan bersama.
“Hari ini ujian kita adalah menjadi satu keluarga besar Kota Surabaya. Mari kita raih kemerdekaan, maka kita harus bisa meraih kesejahteraan. Itu kalau kita bisa bersama. Hari ini kita memperingati 10 November, maka semangat kita harus semangat menuju kemerdekaan seutuhnya Kota Surabaya. Merdeka! Merdeka!” seru Eri yang disambut gemuruh ribuan warga.
Selepas prosesi pembukaan resmi tersebut, rangkaian konvoi langsung bergulir menembus rute legendaris Tugu Pahlawan hingga Alun-Alun Kota Surabaya, menegaskan pesan bahwa spirit “Suroboyo Wani” tetap relevan menopang kemajuan kota lintas generasi.





















