Kebakaran Hutan dan Lahan di Jawa Timur: Dampak Luas hingga Upaya Pemadaman

Karhutla di kawasan Gunung Bromo Jawa Timur dengan petugas pemadam kebakaran berada di tengah asap tebalYayasan Asri / Wikimedia Commons

DIAGRAMKOTA.COM – Sebanyak 11.449 hektare lahan di Jawa Timur terbakar akibat kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga Oktober 2026. Angka ini berasal dari 184 insiden yang tersebar di 26 kabupaten dan kota, menunjukkan skala bencana yang signifikan dan memerlukan penanganan serius dari berbagai pihak terkait.

Penyebab Utama: Manusia dan Faktor Kesengajaan

Menurut Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepala Berton SP Panjaitan, sekitar 77,05 persen dari total kejadian Karhutla terjadi di wilayah hutan konservasi. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas manusia menjadi penyebab utama kebakaran tersebut.

“Selain cuaca ekstrem, munculnya titik api secara bersamaan di beberapa gunung menandakan adanya unsur kesengajaan atau kelalaian manusia,” ujar Berton dalam rapat koordinasi penanganan Karhutla di Gunung Arjuno, Kota Batu, pada Jumat (23/10).

Kendati cuaca kering dan panas menjadi faktor pendukung, bukan berarti alam yang menjadi satu-satunya penyebab. Keberadaan titik api yang muncul secara simultan di lokasi berbeda menunjukkan kemungkinan besar ada tindakan sengaja, seperti pembakaran lahan untuk perluasan pertanian atau pengelolaan lahan tanpa prosedur aman.

Korban Jiwa dan Kerusakan Ekosistem

Bencana ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menelan korban jiwa. Hingga saat ini, enam petugas dan relawan pemadam kebakaran gugur dalam operasi penyelamatan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Insiden ini menegaskan tingginya risiko yang dihadapi tim penanggulangan bencana saat bertugas di daerah terpencil dan sulit dijangkau.

BNPB telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum (APH) untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran yang tertangkap. Tujuannya adalah menciptakan efek jera agar masyarakat lebih sadar akan konsekuensi dari tindakan tersebut.

Langkah Pencegahan dan Pemulihan Lingkungan

Setelah kebakaran terjadi, upaya pemulihan lingkungan pun dilakukan. Salah satunya adalah membersihkan sisa material dan kayu terbakar di sepanjang aliran sungai di kawasan pegunungan. Langkah ini penting untuk mencegah sumbatan air saat musim hujan tiba, yang bisa memicu banjir dan tanah longsor.

“Pak Kepala BNPB telah menginstruksikan agar seluruh material sisa kebakaran dibersihkan dari aliran sungai agar tidak mengganggu aliran air,” jelas Berton.

Hujan sebagai Harapan Sementara

Kabar baik datang dari hujan deras yang turun pada Kamis (22/10) sore di wilayah Gunung Arjuno-Welirang. Hujan ini berhasil memadamkan titik api di Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, yang merupakan area yang sangat sulit dijangkau karena topografi berbukit dan tebing curam.

“Kami langsung turun ke lapangan, termasuk ke Tawangargo. Semua titik api sudah padam karena pengaruh hujan yang cukup intens,” kata Kepala BPBD Kabupaten Malang, Purwoto.

Namun, hujan yang turun dikonfirmasi sebagai hujan alami, bukan hasil dari operasi modifikasi cuaca (OMC). Meski begitu, distribusi hujan belum merata, sehingga tim gabungan masih dalam kondisi siaga penuh untuk mencegah kemunculan titik api baru.

Tantangan Akses dan Perencanaan Jangka Panjang

Purwoto menjelaskan bahwa akses menuju lokasi kebakaran sangat sulit. “Untuk mencapai titik api di wilayah Budug Asu hingga Tawangargo, butuh waktu dua jam perjalanan. Ini menjadi tantangan besar bagi tim pemadam,” ungkapnya.

Ia menambahkan, meskipun hujan mulai terjadi, diperkirakan musim hujan resmi akan dimulai Desember mendatang. Oleh karena itu, antisipasi terus dilakukan, termasuk penyiapan sumber daya dan logistik untuk operasi darurat jika diperlukan.

Dengan kondisi yang masih rentan, keberlanjutan kerja sama antara instansi pemerintah, masyarakat, dan relawan menjadi kunci utama dalam mencegah kebakaran berulang dan melindungi ekosistem alam Jawa Timur.