DPRD Surabaya: Festival Layang-Layang, Upaya Rangkul Gen Z

Ringkasan Berita:

Surabaya, Diagramkota.com — Penyelenggaraan festival layang-layang dinilai sangat strategis untuk diresmikan sebagai agenda kegiatan rutin tahunan di Kota Surabaya. Selain berfungsi sebagai sarana rekreasi dan hiburan masyarakat, perhelatan ini menjadi langkah konkret dalam menghidupkan kembali eksistensi permainan tradisional yang kian tergerus oleh masifnya gempuran teknologi serta penggunaan gawai (gadget), khususnya di kalangan generasi muda.

Dorongan tersebut disuarakan oleh Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, Dr. Zuhrotul Mar’ah. Ia mencermati bahwa keberadaan permainan layang-layang saat ini kian langka dimainkan oleh anak-anak di perkotaan akibat dominasi game dan platform hiburan digital.

DPRD Surabaya: Rangkul Generasi Z Lepas dari Jeratan Gawai

Melihat fenomena tersebut, Zuhrotul menekankan pentingnya festival layang-layang untuk terus diselenggarakan secara berkala. Ajang ini dipandang sebagai ruang interaksi positif bagi generasi muda, termasuk Gen Z, agar kembali mengenal nilai-nilai filosofis dan kebersamaan dalam permainan rakyat tempo dulu.

“Saya berharap kegiatan layang-layang ini bisa dibuat rutin setiap tahun. Karena permainan seperti ini sekarang hampir mulai punah, anak-anak lebih banyak bermain gadget. Jadi kita perlu merangkul generasi muda agar kembali mengenal permainan tradisional,” tutur Dr. Zuhrotul Mar’ah, Senin (31/8).

Ia menilai kemasan festival tidak boleh dipandang sebatas ajang menerbangkan layang-layang di lapangan terbuka, melainkan wadah integratif yang memadukan kreasi artistik, rekayasa desain, hingga inovasi tata kelola pertunjukan budaya.

“Gen Z harus kita rangkul. Mereka bisa diajak berkreasi dan berkarya melalui kegiatan seperti ini. Jadi bukan hanya bermain, tetapi juga ada kreativitas dan ruang untuk menunjukkan karya mereka,” imbuhnya.

Komitmen Pelestarian Budaya dan Harapan Dukungan Pemkot Surabaya

Zuhrotul meyakini, apabila dikelola secara profesional dan konsisten setiap tahun, Festival Layang-Layang berpotensi menjadi magnet pariwisata yang dinantikan publik luas sekaligus instrumen benteng pelestarian budaya bangsa di era digitalisasi.

Oleh karena itu, ia mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk memberikan perhatian dan dukungan penuh terhadap keberlanjutan event ini dengan merangkul jejaring komunitas kreatif dan pemuda secara lebih luas.

“Jangan sampai permainan tradisional ini hilang karena perkembangan zaman. Justru kita manfaatkan festival ini untuk mempertemukan permainan tradisional dengan kreativitas anak muda,” pungkasnya.