Didukung MPP PDIP, Rumah Semanggi Surabaya Pertama Hadir di Jalan Tunjungan,
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kuliner khas semanggi Surabaya, kini memiliki pusat kuliner permanen di kawasan Tunjungan Romansa melalui stan UMKM Selendang Semanggi milik Bu Aminah. Peresmian yang dihadiri Tri Rismaharini, Armuji, dan jajaran PDI Perjuangan Surabaya ini menjadi simbol keberhasilan UMKM lokal naik kelas sekaligus upaya pelestarian warisan budaya Kota Pahlawan.
Selendang Semanggi Resmi Hadir di Jantung Kota Surabaya
DIAGRAMKOTA.COM – Makanan khas Surabaya, semanggi, kini semakin mudah dijumpai masyarakat maupun wisatawan. Melalui dukungan Media Pintar Perjuangan (MPP) DPC PDI Perjuangan Surabaya, stan kuliner UMKM Selendang Semanggi milik Bu Aminah resmi dibuka di kawasan Tunjungan Romansa, Senin (8/6/2026).
Kehadiran stan tersebut menjadikannya sebagai pusat kuliner semanggi permanen pertama yang berada di kawasan ikonik Jalan Tunjungan, salah satu destinasi wisata dan pusat keramaian Kota Surabaya.
Peresmian stan kuliner itu dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Bidang Penanggulangan Bencana DPP PDI Perjuangan sekaligus mantan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, Wakil Wali Kota Surabaya sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya, Armuji, Ketua DPRD Surabaya sekaligus Sekretaris DPC PDIP Surabaya, Syaifuddin Zuhri, serta jajaran pengurus partai dan aktivis Taruna Merah Putih.
Risma: Semanggi Adalah Warisan Budaya yang Harus Dijaga
Tri Rismaharini menyambut positif hadirnya Selendang Semanggi di Jalan Tunjungan. Menurutnya, perkembangan usaha yang diraih Bu Aminah menjadi bukti bahwa pelaku UMKM lokal mampu berkembang apabila mendapatkan pendampingan yang tepat.
“Saya selalu percaya UMKM adalah tulang punggung ekonomi masyarakat. Yang terpenting bukan hanya bertahan, tetapi bagaimana mereka bisa naik kelas tanpa meninggalkan identitas lokalnya,” ujar Risma.
Menurutnya, semanggi tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang melekat pada identitas Kota Surabaya.
“Semanggi adalah bagian dari sejarah dan identitas Kota Surabaya. Ketika UMKM seperti Bu Aminah berkembang, maka yang ikut tumbuh bukan hanya usahanya, tetapi juga kebanggaan terhadap budaya daerah,” katanya.
Risma berharap semakin banyak pelaku UMKM yang berani melakukan inovasi serta memanfaatkan peluang pasar yang lebih luas tanpa menghilangkan akar budaya lokal yang menjadi kekuatan utama produknya.
Armuji: Semanggi Khas Surabaya Harus Terus Dilestarikan
Wakil Wali Kota Surabaya Armuji menegaskan bahwa semanggi merupakan salah satu kuliner legendaris Kota Pahlawan yang keberadaannya perlu dijaga.
Menurutnya, tanaman semanggi saat ini hanya tumbuh di wilayah tertentu, terutama kawasan Pakal dan Kendung, sehingga keberlangsungan kuliner tersebut memerlukan perhatian bersama.
“Semanggi ini makanan khas Suroboyo yang harus dijaga dan dilestarikan. Kehadiran Rumah Makan Selendang Semanggi di Jalan Tunjungan sangat tepat karena menjadi etalase kuliner khas Surabaya di tengah kota,” ujar Armuji.
Ia menjelaskan, MPP PDI Perjuangan memberikan perhatian khusus kepada UMKM yang memiliki produk unggulan dan potensi untuk berkembang lebih besar. Salah satunya adalah inovasi yang dilakukan Bu Aminah melalui produk semanggi instan.
“Dulu semanggi harus habis dijual hari itu juga. Sekarang sudah bisa dikemas menjadi produk kering yang tahan berbulan-bulan dan bisa dikirim ke berbagai daerah. Ini bentuk inovasi UMKM yang harus kita dukung,” katanya.
Armuji menambahkan, MPP yang berada di bawah pembinaan Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital, Prananda Prabowo, terus memantau berbagai potensi UMKM daerah yang berpeluang menembus pasar nasional maupun internasional.
“Kami ingin UMKM lokal naik kelas. Kalau ada produk khas daerah yang punya potensi besar, tentu akan mendapat dukungan dan fasilitasi,” tegasnya.
Ketua DPRD Surabaya Sebut Semanggi sebagai Identitas Kota
Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri menilai semanggi merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Surabaya.
“Semanggi ini ciri khas warga Surabaya. Tidak ada di daerah lain. Ini harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda,” ujarnya.
Ia mengenang bagaimana kuliner semanggi pernah diperkenalkan secara luas dalam sejumlah kegiatan politik yang dihadiri tokoh nasional, termasuk Megawati Soekarnoputri dan Tri Rismaharini.
“Makanan ini sehat dan memiliki nilai sejarah. Karena itu UMKM seperti Bu Aminah harus terus didorong agar berkembang,” katanya.
Menurut Syaifuddin, keberadaan UMKM menjadi salah satu pilar utama ketahanan ekonomi daerah.
“Kalau UMKM tumbuh dan konsisten, ekonomi kerakyatan akan kuat. Kota juga akan lebih tahan menghadapi berbagai situasi ekonomi,” tambahnya.
Perjuangan Bu Aminah dari Penjual Gendong hingga Punya Stan di Jalan Tunjungan
Di balik peresmian tersebut tersimpan kisah inspiratif Bu Aminah yang telah menekuni usaha semanggi sejak tahun 2007.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan usahanya dapat berkembang hingga memiliki stan kuliner di kawasan prestisius Jalan Tunjungan.
“Saya benar-benar seperti mimpi. Dulu hanya jual semanggi gendong, sekarang punya stan di Jalan Tunjungan. Saya sampai terharu kalau cerita ini,” katanya sambil menahan air mata.
Bu Aminah mengungkapkan titik balik perkembangan usahanya terjadi setelah mengikuti program Pahlawan Ekonomi yang digagas Pemerintah Kota Surabaya saat dipimpin Tri Rismaharini.
“Saya berkembang karena program Pahlawan Ekonomi. Dari situ saya belajar mengembangkan usaha dan memperluas pemasaran,” ungkapnya.
Kini, selain menjual semanggi segar, Selendang Semanggi juga menghadirkan semanggi instan dalam bentuk kering yang mampu bertahan hingga dua bulan tanpa bahan pengawet dan dapat dikirim ke berbagai daerah sebagai oleh-oleh khas Surabaya.
Wisatawan Sambut Positif Kehadiran Selendang Semanggi Surabaya
Kehadiran Selendang Semanggi di kawasan Tunjungan Romansa mendapat respons positif dari masyarakat.
Salah satu pengunjung, Rudi, menilai lokasi stan sangat strategis untuk memperkenalkan kuliner khas Surabaya kepada wisatawan.
“Menurut saya sangat bagus karena berada di lokasi yang strategis. Ini makanan khas Suroboyoan dan memang cocok ditempatkan di Jalan Tunjungan,” ujarnya.
Ia juga mengaku puas dengan cita rasa menu yang disajikan, termasuk lontong kikil yang menjadi salah satu menu favorit di lokasi tersebut.
“Rasanya enak dan harganya juga sesuai. Jadi sangat layak untuk dicoba,” katanya.
Simbol Kebangkitan UMKM dan Pelestarian Budaya Surabaya
Kehadiran Selendang Semanggi menjadi lebih dari sekadar pembukaan sebuah stan kuliner. Perjalanan Bu Aminah membuktikan bahwa UMKM lokal mampu berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya.
Semanggi yang selama ini identik dengan penjual gendong kini mendapatkan panggung baru di pusat kota, sekaligus menjadi simbol keberhasilan UMKM Surabaya naik kelas dan memperkenalkan warisan kuliner daerah kepada generasi yang lebih luas.***

>
