Strategi Kota Surabaya Mengatasi Banjir dengan Penambahan Rumah Pompa
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 9 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kota Surabaya, yang dikenal sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, terus berupaya menghadapi tantangan banjir yang sering terjadi, terutama di wilayah selatan. Pemerintah setempat telah merancang strategi komprehensif untuk memperbaiki sistem drainase dan meningkatkan kapasitas penanggulangan banjir. Salah satu langkah utamanya adalah penambahan rumah pompa serta penataan infrastruktur saluran air.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi secara langsung meninjau beberapa titik rawan banjir, seperti Rumah Pompa Ahmad Yani, Gayungsari Barat, dan Rumah Pompa Nanggala di Dukuh Menanggal. Ia juga memeriksa saluran-saluran di Jemursari, Kendangsari, dan Tenggilis Mejoyo. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memastikan bahwa semua area terhubung secara efisien dalam sistem aliran air.
Fokus pada Konektivitas dan Pengaturan Elevasi
Eri menyatakan bahwa masalah banjir tidak hanya terkait dengan kapasitas saluran, tetapi juga dengan kurangnya konektivitas antar wilayah. “Yang kita lakukan hari ini mengoneksikan dan mengoreksi agar satu area terhubung dengan area lain,” ujarnya. Hal ini penting karena perbedaan elevasi saluran di beberapa titik bisa menghambat aliran air secara optimal.
Ia memberikan contoh, saluran di Dukuh Menanggal terlihat kering, sementara di Gayungsari masih tergenang. Kondisi ini menunjukkan bahwa aliran air belum mengarah ke titik pembuangan yang seharusnya. “Padahal air seharusnya dibuang ke Menanggal lalu dipompa ke Kali perbatasan. Maka elevasi kita samakan,” tambahnya.
Penambahan Rumah Pompa dan Infrastruktur Alternatif
Pemkot Surabaya menargetkan tuntasnya masalah banjir di wilayah selatan pada 2026. Untuk mencapai tujuan tersebut, pihaknya telah merencanakan beberapa strategi, termasuk pembangunan rumah pompa baru, pengerukan saluran, dan pembuatan storage air di titik-titik yang tidak memungkinkan dilakukan pelebaran saluran.
Eri menyebutkan bahwa rumah pompa baru akan dibangun di Panjang Jiwo dan kawasan Nginden, yang selama ini rutin terdampak banjir. “Targetnya 2026 tidak ada lagi banjir di wilayah ini,” tegasnya.
Selain itu, pemkot juga menyiapkan metode alternatif jika pembangunan box culvert terkendala anggaran. Metode penggunaan Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP) dipertimbangkan. Sementara di lokasi yang terhalang infrastruktur seperti SUTET, solusi storage air di badan jalan dipilih untuk mengurangi beban saluran.
Dampak Perubahan Tata Guna Lahan
Menurut Eri, perubahan tata guna lahan di Surabaya turut memperparah banjir. Minimnya area resapan membuat air hujan langsung masuk ke saluran yang kapasitasnya terbatas. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara perkembangan kota dan keberlanjutan lingkungan.
Strategi yang diterapkan oleh Pemkot Surabaya menunjukkan komitmen kuat untuk mengatasi masalah banjir secara berkelanjutan. Dengan penambahan rumah pompa dan peningkatan infrastruktur drainase, kota ini berusaha menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghadapi tantangan iklim dan perubahan lingkungan.***

>

Saat ini belum ada komentar