Kisah Bagus Panuntun jadi Plt Wali Kota Madiun: Dari Penyiar Radio, Lalu Jadi Bintang Tamu Gedung Merah Putih
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Namanya Bagus. Dan memang, karier politiknya terlihat bagus-bagus saja — sampai hari Senin kemarin.
Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, terpaksa mampir ke Gedung Merah Putih KPK pada Senin, 11 Mei 2026. Bukan untuk seremoni penghargaan, bukan pula untuk foto-foto bareng pejabat. Melainkan untuk diperiksa penyidik — hampir 10 jam penuh, dari pagi pukul 07.39 WIB hingga sore 17.49 WIB.
Bayangkan: 10 jam. Lebih lama dari rapat DPRD yang paling melelahkan sekalipun.
Dari Corong Mikrofon ke Kursi Empuk Kekuasaan
Perjalanan hidup Bagus sejatinya penuh warna. Sebelum jadi politisi, ia adalah penyiar radio DCS FM Madiun pada 2002–2007. Suaranya dulu mengalun merdu di frekuensi radio, kini harus menjawab pertanyaan tajam para penyidik KPK.
Ia kemudian terjun ke dunia usaha di bidang event organizer dan advertising — profesi yang membuatnya jago branding. Dan memang, personal branding-nya berhasil: dari anggota DPRD Kota Madiun 2019–2024, ia melompat jadi Wakil Wali Kota.
Belum cukup, Kaesang Pangarep pun menunjuknya sebagai Ketua DPW PSI Jawa Timur pada Januari 2026. Dalam hitungan bulan, ia menggenggam dua jabatan sekaligus. Luar biasa efisien.
Nasib Naik Jabatan Karena Atasan Kena OTT
Sayangnya, promosi jadi Plt Wali Kota datang bukan karena prestasi — melainkan karena atasannya, Wali Kota Maidi, ditetapkan tersangka dugaan pemerasan dan penerimaan gratifikasi melalui modus fee proyek dan dana CSR.
Kalau di dunia kerja biasa, ini namanya naik jabatan karena kekosongan mendadak. Di dunia politik Madiun, ini namanya takdir.
Kasus bermula Juli 2025 — ada arahan pengumpulan uang, ada yayasan yang dimintai Rp 350 juta berdalih dana CSR, ada fee perizinan. Pendek kata, cerita lama dengan kemasan yang selalu baru.
Bagus Panuntun Bungkam Setelah 10 Jam
Usai pemeriksaan maraton, para wartawan sudah siap menyambut dengan berbagai pertanyaan. Hasilnya? “Tanya penyidik saja ya,” kata Bagus, sambil ngeloyor meninggalkan Gedung Merah Putih dengan kemeja batik, jaket coklat, dan masker hitam.
Tiga kata. Setelah 10 jam. Singkat, padat, dan tidak berisi — persis seperti janji kampanye pada umumnya.
Bagus Panuntun hari ini masih berstatus saksi, bukan tersangka. Jadi belum ada yang perlu dikhawatirkan — setidaknya secara hukum.
Tapi mungkin ada satu pelajaran berharga di sini: di republik ini, jalan paling cepat naik jabatan adalah menunggu atasan tersandung hukum. Dan jalan paling cepat jadi terkenal nasional adalah dipanggil KPK.
Selamat bertugas, Pak Plt. Semoga kursinya tidak ikut-ikutan panas.***

>
>
