Keracunan MBG di Surabaya, Menteri HAM Sebut Ada Kesalahan Pengelolaan Dapur SPPG
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI, Natalius Pigai menyoroti insiden keracunan yang terjadi akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah, termasuk Surabaya. Ia menyatakan bahwa penyebab utama kejadian tersebut adalah pengelolaan yang tidak profesional dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Pigai menjelaskan bahwa tujuan awal dari program MBG adalah untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan gizi yang cukup sehingga tumbuh sehat dan cerdas. Namun, ia mengungkapkan bahwa hal ini justru berubah menjadi masalah karena kesalahan dalam pengolahan makanan oleh SPPG.
“Saya temukan di Surabaya, kesalahannya memang sudah dipastikan dapur SPPG yang bermasalah,” ujarnya saat menjenguk korban keracunan MBG yang masih dirawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak Ikatan Bidan Indonesia (RSIA IBI), Rabu (13/5/2026).
Ia menambahkan bahwa ada beberapa dapur SPPG yang kinerjanya dinilai kurang cakap. Hal ini mencakup pengelolaan yang tidak cermat, teliti, rapi, dan disiplin. Menurutnya, hal ini bisa berdampak pada kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.
Respons Cepat RSIA IBI Diapresiasi
Dalam kunjungan tersebut, Pigai juga memberikan apresiasi atas respons cepat dari RSIA IBI dalam merawat siswa yang terkena keracunan MBG. Saat pertama kali datang, jumlah siswa yang dirawat cukup banyak, tetapi kini hanya tersisa tujuh siswa yang masih menjalani perawatan.
“Saya bangga dengan pelayanan dari rumah sakit ini. Semoga di masa yang akan datang kita akan melihat pelayanan yang bagus ini. Semoga kita tidak temukan lagi hal yang sama ya,” katanya.
Harapan untuk Kualitas Kinerja SPPG
Pigai berharap kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh SPPG agar lebih meningkatkan kualitas kinerja mereka. Ia menekankan pentingnya profesionalisme, disiplin, serta kehati-hatian dalam menjalankan tugas.
“Supaya kualitas produk dari dapur tersebut bisa disajikan untuk anak cucu kita generasi yang akan datang. Harapan itu yang sebenarnya selalu diucapkan oleh Presiden,” ujarnya.
Motivasi untuk Siswa yang Terkena Keracunan
Selain itu, Pigai juga memberikan motivasi kepada para siswa yang masih dirawat. Ia berharap mereka segera pulih dan kembali bersekolah.
“Harus sembuh ya, sebentar lagi sembuh. Kalau sudah sembuh nanti harus kembali ke sekolah ya,” ucap Pigai kepada para siswa.
Tindakan Lanjutan
Menurut Pigai, kejadian ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak terkait. Ia menegaskan bahwa program MBG harus dijalankan dengan baik dan tidak disalahgunakan demi keuntungan pribadi. Ia juga berharap agar pengelola SPPG dapat bekerja secara profesional dan bertanggung jawab.
Dengan peningkatan kualitas pengelolaan SPPG, diharapkan program MBG dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat yang maksimal bagi kesehatan anak-anak Indonesia.***

>
>

Saat ini belum ada komentar