Patmosusastro Surabaya Koleksi Bersejarah yang Bertahan di Tengah Perubahan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 15 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah perubahan cepat yang terjadi di kota-kota besar, banyak usaha tradisional menghadapi tantangan berat. Namun, di Jalan Patmosusastro, Surabaya, toko barang antik tetap bertahan sebagai saksi bisu dari masa lalu. Meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk kebakaran beberapa tahun lalu, aktivitas jual beli barang lawas masih berlangsung, meski tidak sebesar dulu.
Penyimpanan Benda-Benda Bersejarah yang Menarik
Dalam toko tersebut, berbagai benda antik disimpan dengan rapi dan penuh perhatian. Di atas meja kaca, berjajar perangkat minum teh dari porselen putih bersih dengan aksen teal pada tutup tekonya. Di sekitarnya, guci-guci dan keramik berwarna krem dengan lukisan tangan motif bunga mawar biru dan oranye menambah kesan vintage.
Bergeser sedikit, pengunjung bisa menemukan miniatur becak mini dengan detail pedal lampu depan, hingga kursi penumpang dengan atap penutup. Ada juga radio hitam model lama dengan antena panjang yang mengingatkan pada era sebelum teknologi modern berkembang pesat.
Nuansa Masa Lalu yang Terasa
Di sudut lain, pajangan figur seperti bangau dan sepasang patung yang menggambarkan penari tradisional perempuan dengan pakaian adat yang mendetail, lengkap dengan mahkota dan kain yang menjuntai, memberikan nuansa budaya yang kental. Sementara itu, sebuah jam dinding raksasa menjadi pusat perhatian. Lingkaran jam tersebut dibalut bingkai kayu jati ukir yang gelap, membingkai lempeng hitam dengan ukiran kaligrafi Arab berwarna emas mengkilap yang masih berfungsi presisi.
Nuansa mekanik masa lalu juga terpampang nyata lewat deretan kamera saku analog merek Fujifilm mulai dari seri Cometa hingga ZO, dengan warna hitam dan krem yang dulu kerap diburu oleh para kolektor.
Keberlanjutan Usaha Turun-Temurun
Aldy, salah satu pengelola toko yang telah sepuluh tahun berkecimpung di dunia ini, mengungkapkan bahwa bisnis tersebut merupakan perpaduan antara warisan keluarga dan kegemaran pribadi. “Ini usaha turun-temurun, tapi dibilang hobi juga iya,” ujarnya saat ditemui.
Koleksinya mencakup segala lini, termasuk mortir kecil dari kuningan yang mengkilap hingga bola dunia (globe) yang terperangkap dalam balok resin bening. Menurutnya, tidak ada satu jenis barang pun yang mendominasi etalasenya. “Kalau jualan barang antik tidak ada yang dominan ya, soalnya tergantung konsumennya saja.”
Proses Pengadaan Barang Antik
Untuk mendapatkan barang, Aldy mengaku aktif berburu ke berbagai daerah, baik melalui jaringan maupun informasi yang diperoleh. “Barang-barang ini ada yang memang dijual ke toko, kadang cari-cari sendiri kalau ada informasi,” jelasnya.
Harga barang yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp30 juta, tergantung jenis dan keunikan barang. Meski menghadapi penurunan minat pembeli, tokonya tetap menjadi tujuan bagi konsumen yang tidak menentu, mulai dari kolektor kelas berat hingga anak muda yang mencari nilai estetika untuk mempercantik hunian.
Dampak Kejadian Kebakaran
Terkait kebakaran yang pernah terjadi di kawasan Jalan Patmosusastro, Aldy menyebut toko barang antik relatif tidak terdampak langsung. Ia mengatakan kebakaran lebih banyak mengenai usaha lain di sekitar lokasi. “Ya tetap toko ada dua kalau di sini. Yang kebakar kan ada bekled, abon, dan warung, bukan toko antik saja,” kenangnya.
Meskipun minat pembeli terhadap barang antik saat ini mengalami penurunan, toko ini tetap menjadi tempat yang menarik bagi mereka yang ingin merasakan nuansa masa lalu.***

>

Saat ini belum ada komentar