Masalah yang Dihadapi Pengemudi Ojol di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pengemudi ojek online (ojol) di Surabaya menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi penghasilan dan kenyamanan kerja mereka. Salah satu isu utama adalah sistem pembagian wilayah yang dinilai tidak adil. Menurut Didik, seorang pengemudi ojol asal Sukolilo, Surabaya, pengemudi dibatasi dalam menjangkau wilayah tertentu. Hal ini menyebabkan ruang gerak menjadi terbatas.
“Jadi wilayah Surabaya enggak bisa ke Sidoarjo, Sidoarjo enggak bisa ke Surabaya,” ujar Didik. Ia menambahkan bahwa pengemudi reguler sering kali harus menunggu lama untuk mendapatkan pesanan. “Kalau driver reguler, jedanya bisa satu jam bahkan sampai dua jam baru dapat penumpang.”
Potongan Tarif yang Mengkhawatirkan
Selain masalah wilayah, pengemudi ojol juga mengeluhkan besarnya potongan tarif dari aplikator. Didik mengatakan bahwa dari tarif Rp 15.000, pengemudi hanya menerima sekitar Rp 8.000. Ia menilai potongan tersebut terlalu besar dan memberatkan.
“Potongannya terlalu besar,” kata Didik. Ia menegaskan bahwa hal ini sangat memengaruhi pendapatan pengemudi, terutama ketika jumlah pesanan sedikit dan jeda antara pesanan cukup lama.
Aksi Demo dan Kebutuhan Perda
Aksi demo yang dilakukan oleh pengemudi ojol di Surabaya pada Selasa (28/4/2026) mencerminkan kekecewaan terhadap kondisi yang mereka alami. Didik mengaku ikut serta dalam aksi damai tersebut karena khawatir jika tetap mengambil penumpang akan diturunkan oleh sesama pengemudi.
“Ikut aksi damai dulu karena kalau narik penumpang takut nanti diturunkan,” katanya. Ia berharap pemerintah dapat mengeluarkan peraturan daerah (Perda) yang melindungi hak-hak pengemudi ojol.
Tuntutan Pengemudi Ojol
Dalam aksi demo tersebut, para pengemudi ojol menyampaikan beberapa tuntutan, termasuk perbaikan sistem pembagian wilayah dan pengurangan potongan tarif. Mereka berharap pemerintah dapat menyelesaikan masalah ini agar pengemudi ojol dapat bekerja dengan lebih nyaman dan layak.
Dampak Terhadap Pekerjaan dan Kehidupan
Masalah yang dihadapi pengemudi ojol tidak hanya berdampak pada pendapatan, tetapi juga pada kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Didik mengatakan bahwa ia merencanakan untuk kembali bekerja sekitar pukul 13.00–14.00 WIB setelah aksi demo. Namun, ia tetap khawatir tentang stabilitas penghasilan dan kenyamanan kerja.
“Nanti siang saya narik lagi, kalau belum selesai ya saya balik duluan,” ujarnya. Ia berharap ada solusi yang dapat membantu pengemudi ojol menghadapi tantangan ini.
Harapan untuk Masa Depan
Didik dan rekan-rekannya berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah yang tepat untuk memperbaiki kondisi pengemudi ojol. Mereka berharap adanya regulasi yang dapat melindungi hak-hak mereka dan meningkatkan kualitas hidup.
“Kita harap ada perbaikan, jadi bisa bekerja dengan lebih baik,” kata Didik. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian yang lebih besar kepada para pengemudi ojol yang telah berkontribusi dalam transportasi kota.***

>

Saat ini belum ada komentar