PJU Mati, Kriminal Menyala: Teror Jalan Dupak, Pemkot Surabaya Tunggu Apa Lagi?
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – PJU Mati di Jalan Dupak kembali “bicara” lewat gelapnya malam. Sayangnya, bukan tentang ketenangan kota, melainkan tentang rasa takut yang makin nyata dirasakan warga.
Insiden pembacokan yang menimpa dua remaja pada Jumat malam, 20 Maret 2026, menjadi bukti bahwa kawasan ini belum benar-benar aman. Pertanyaannya sederhana: sampai kapan kondisi ini dibiarkan?
Jalan Gelap, Kriminalitas Terang
M Jufri, orang tua korban, menceritakan bagaimana anaknya diserang secara brutal saat melintas di Jalan Dupak, dekat SPBU sisi PGS Pasar Turi.
Saat itu, korban yang berboncengan dengan sepupunya dipepet oleh dua sepeda motor berisi enam orang pelaku. Tanpa banyak kata, mereka menendang motor hingga korban terjatuh.
Tak berhenti di situ, pelaku kemudian turun dan menyerang menggunakan senjata tajam jenis clurit. Anak Jufri mengalami luka serius di bagian punggung, sementara keponakannya dipukul menggunakan balok kayu.
Beruntung, nyawa keduanya masih terselamatkan.
Namun, luka fisik mungkin bisa sembuh. Rasa aman? Belum tentu.
Jalan Dupak Bukan Sekali Dua Kali
Menurut penuturan keluarga korban, Jalan Dupak bukan lokasi baru bagi aksi kriminal. Penjambretan, pembegalan, hingga kekerasan jalanan disebut sudah berulang kali terjadi.
Ironisnya, kondisi tersebut seolah “didukung” oleh minimnya penerangan jalan umum (PJU). Banyak lampu yang mati, membuat jalanan gelap dan rawan.
Dalam kondisi seperti ini, publik wajar bertanya: apakah gelapnya jalan ini memang dibiarkan?
PJU Mati, Harapan Ikut Redup?
Warga berharap PJU di Jalan Dupak segera diperbaiki. Sebab, keberadaan lampu jalan bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan dasar untuk keamanan.
Jika lampu tidak menyala, maka fungsinya hilang. Dan ketika itu terjadi, ruang publik berubah menjadi ruang rawan.
Tak hanya itu, warga juga meminta pemasangan CCTV sebagai langkah pencegahan tambahan. Teknologi pengawasan dinilai penting untuk menekan angka kejahatan.
Negara Harus Hadir, Bukan Sekadar Lewat
Patroli kepolisian memang sempat melintas dan menangani kejadian tersebut. Namun, masyarakat berharap kehadiran aparat tidak hanya datang setelah kejadian terjadi.
Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan.
Di titik ini, peran pemerintah kota menjadi krusial. Infrastruktur dasar seperti penerangan jalan seharusnya tidak menjadi persoalan berlarut.
Menunggu Viral Baru Bergerak?
Kondisi ini memunculkan sindiran di tengah masyarakat: apakah harus menunggu viral atau jatuh korban lagi, baru ada tindakan nyata?
Jika keamanan warga adalah prioritas, maka Jalan Dupak seharusnya sudah lama masuk daftar perhatian serius.
Karena pada akhirnya, kota yang terang bukan hanya soal lampu yang menyala, tetapi tentang rasa aman yang benar-benar dirasakan. ***

>
>
>
