Pembiayaan Alternatif untuk Infrastruktur Kota Surabaya Capai Rp220 Miliar
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat pembangunan infrastruktur melalui berbagai sumber pendanaan. Salah satu yang menjadi fokus adalah pembiayaan alternatif yang telah mencapai angka sebesar Rp220.586.212.934 pada tahun 2025. Angka ini berasal dari total rencana sebesar Rp452 miliar, yang dialokasikan untuk lima proyek infrastruktur strategis di kota yang dikenal sebagai Kota Pahlawan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menjelaskan bahwa meskipun realisasi pinjaman lebih kecil dari rencana awal, seluruh proyek tetap berjalan. Sebagian besar kebutuhan pembiayaan proyek dipenuhi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). “Realisasi pinjaman daerah yang lebih kecil dari rencana tersebut berdampak pada pengurangan beban kredit atau cicilan karena pembiayaan proyek lainnya menggunakan APBD,” ujar Irvan.
Proyek Infrastruktur yang Dibiayai
Pembiayaan alternatif tersebut dialokasikan untuk lima kegiatan utama. Pertama, pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dengan alokasi dana sebesar Rp42 miliar. Kedua, pembebasan lahan pelebaran Jalan Wiyung senilai Rp130.235.480.241. Ketiga, pembangunan diversi Gunungsari sebesar Rp50.189.846.914. Keempat, pemasangan penerangan jalan umum (PJU) dengan nilai Rp50.297.380.845. Dan kelima, penanganan genangan sebesar Rp179.277.292.000.
Hingga saat ini, realisasi pencairan pinjaman baru mencapai Rp220.586.212.934 atau lebih rendah Rp231.413.787.066 dari total rencana. Realisasi pembangunan JLLB mencapai Rp40.085.653.026 dari rencana Rp42 miliar, dengan selisih sebesar Rp1.914.346.974. Sedangkan pembebasan lahan pelebaran Jalan Wiyung terealisasi Rp130.222.928.000 dari rencana Rp130.235.480.241 atau selisih Rp12.552.241.
Sementara itu, pemasangan PJU terealisasi Rp50.277.631.908 dari rencana Rp50.297.380.845 dengan selisih Rp19.748.937. “Adapun pembangunan diversi Gunungsari dan penanganan genangan belum terealisasi, masing-masing masih menyisakan Rp50.189.846.914 dan Rp179.277.292.000 sesuai pagu rencana,” terang Irvan.
Manfaat dari Proyek Infrastruktur
Dari sisi manfaat, Irvan menjelaskan bahwa proyek yang dibiayai melalui pinjaman daerah memiliki dua kategori, yakni intangible dan tangible. Pada kategori intangible, terdapat penghematan biaya operasional kendaraan (BOK) melalui pembangunan JLLB dan pelebaran Jalan Wiyung yang berdampak langsung pada kelancaran arus lalu lintas. “Pembangunan JLLB dan pelebaran Jalan Wiyung menghadirkan ruas jalan dengan kapasitas dan kualitas yang lebih baik, sehingga kendaraan dapat bergerak lebih lancar dan efisien,” ujarnya.
Selain itu, tersedia manfaat penghematan waktu perjalanan (time saving) melalui distribusi beban lalu lintas yang lebih merata di koridor Surabaya Barat. Dari sisi keselamatan, Irvan menilai pelebaran Jalan Wiyung dapat memberikan ruang gerak yang lebih aman bagi kendaraan dan pejalan kaki. Demikian pula, pemasangan PJU di berbagai titik juga meningkatkan visibilitas pengemudi pada malam hari. “Sehingga berkontribusi pada penurunan angka kecelakaan dan tindak kriminalitas,” imbuhnya.
Kenaikan Pendapatan Daerah
Dari sisi ekonomi, Irvan menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan daerah menjadi salah satu dampak dari proyek infrastruktur. Pembangunan JLLB dan pelebaran Jalan Wiyung meningkatkan aksesibilitas kawasan sekitar yang mendorong kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lahan, sehingga berdampak pada peningkatan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain itu, bertambahnya jumlah titik PJU memperluas basis pengenaan Pajak PJU. Peningkatan konsumsi listrik untuk penerangan jalan berkontribusi pada pertumbuhan penerimaan Pajak PJU yang merupakan salah satu komponen PAD Kota Surabaya. “Pertumbuhan aktivitas ekonomi tersebut diharapkan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Irvan.
Rencana Pembiayaan di Tahun Mendatang
Meski demikian, Irvan menegaskan sejumlah proyek infrastruktur yang telah berjalan pada 2025, akan berlanjut hingga 2026-2027. Pemkot Surabaya merencanakan pembiayaan alternatif melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dengan total nilai Rp3.158.927.030.208. “Berdasarkan rencana alokasi anggaran, pada 2026 disiapkan pinjaman Rp1.592.915.650.053 dan pada 2027 sebesar Rp1.566.011.380.155. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai sejumlah proyek strategis,” jelasnya.
Rencana pembiayaan tersebut meliputi pembangunan JLLB trase Raya Sememi-Simpang Romokalisari sebesar Rp300 miliar, pelebaran Jalan Wiyung, pembangunan Flyover Dolog, proyek Diversi Gunungsari, pemasangan PJU, serta penanganan genangan. “Pembayaran kredit atau cicilan akan diselesaikan sampai dengan Tahun 2029,” pungkas Irvan.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar