Energi Nuklir: Solusi untuk Swasembada Energi Nasional
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 2 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Energi nuklir kembali menjadi topik yang menarik perhatian di tengah upaya pemerintah Indonesia dalam mencapai swasembada energi. Dengan penunjukan Menteri Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), isu pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) semakin relevan. Sejumlah akademisi dan ahli ekonomi menyambut baik langkah ini, mengingat potensi besar yang dimiliki oleh energi nuklir.
Keunggulan Teknis dan Lingkungan dari Energi Nuklir
Dari segi teknis, PLTN memiliki keunggulan signifikan dibandingkan sumber energi konvensional. Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, menjelaskan bahwa energi nuklir memiliki densitas energi yang sangat tinggi. “Dengan bahan bakar yang relatif kecil, listrik yang dihasilkan bisa sangat besar dan stabil,” ujarnya dalam diskusi Swasembada Energi di Era Prabowo di Surabaya.
Selain itu, energi nuklir juga termasuk dalam kategori energi bersih karena tidak menghasilkan emisi karbon dioksida selama proses pembangkitannya. Hal ini membuatnya sejalan dengan target penurunan emisi nasional dan agenda transisi energi yang sedang digencarkan.
Tantangan dalam Pengembangan PLTN
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan PLTN di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan. Ary menyoroti bahwa tantangan utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur pendukung, serta integrasi dengan kawasan industri.
Selain itu, aspek keselamatan dan edukasi publik harus menjadi prioritas utama. Meski Indonesia memiliki cadangan uranium di Kalimantan Barat, masyarakat tetap membutuhkan informasi yang jelas dan transparan mengenai risiko dan manfaat dari penggunaan energi nuklir.
Dampak Ekonomi Makro dari Energi Nuklir
Dari sudut pandang ekonomi makro, ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai bahwa energi nuklir berpotensi memperkuat fiskal negara dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Selama ini, impor energi menjadi salah satu faktor yang membebani anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta neraca perdagangan.
Hendry optimistis bahwa keberadaan PLTN dapat membantu pemerintah mewujudkan target elektrifikasi 100 persen, khususnya di wilayah Indonesia timur yang masih minim akses listrik. Ia juga mendukung penunjukan Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Harian DEN karena dinilai dapat mempercepat eksekusi kebijakan swasembada energi.
Kebijakan Energi yang Terpadu
Dosen kebijakan publik Unesa, Ahmad Nizar Hilmi, menilai rangkap jabatan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) sebagai Ketua Harian DEN mencerminkan keinginan pemerintah untuk menyatukan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan energi dalam satu garis komando. Namun, ia menekankan pentingnya tata kelola dan transparansi, terutama dalam proyek strategis energi bernilai investasi besar.
Nizar menyarankan agar pemerintah membuka informasi kepada publik terkait aktor industri dan penyedia teknologi di balik kebijakan swasembada energi. Dengan demikian, masyarakat akan lebih percaya dan mendukung inisiatif pemerintah dalam pengembangan energi nuklir.
Masa Depan Energi Nuklir di Indonesia
Dengan berbagai keunggulan dan potensi yang dimiliki, energi nuklir bisa menjadi bagian penting dalam strategi swasembada energi nasional. Namun, keberhasilan pengembangannya tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada dukungan masyarakat, kebijakan yang jelas, dan transparansi dalam pengelolaan proyek.
Pemerintah perlu terus berkomunikasi dengan masyarakat dan stakeholder terkait, termasuk para ahli dan lembaga penelitian, untuk memastikan bahwa pengembangan energi nuklir dilakukan secara aman, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi seluruh rakyat Indonesia.***

>

Saat ini belum ada komentar