Penguatan Kesadaran Bencana di Sekolah-sekolah Jawa Timur, Dindik Gandeng BPBD
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi wadah untuk membangun kesadaran akan risiko bencana. Di Jawa Timur, langkah ini mulai dilakukan melalui penerapan kurikulum tambahan yang dikenal dengan nama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) atau Sekolah Tangguh Bencana. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan siswa, guru, dan staf sekolah dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Implementasi Kurikulum SPAB
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menjelaskan bahwa SPAB bukan hanya sebatas simulasi evakuasi. Lebih dari itu, program ini bertujuan untuk menciptakan agen perubahan yang mampu membentuk lingkungan belajar yang aman dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim sebagai mitra utama dalam sosialisasi dan pelaksanaan program.
”Tujuan dari SPAB adalah membangun kesiapsiagaan siswa, guru, hingga staf melalui penguatan sistem dan keterampilan merespons bencana,” ujar Aries Agung Paewai saat memberikan arahan dalam Bimtek Kepala Sekolah dan Tenaga Pendidikan Sekolah Rakyat se-Jatim.
Pentingnya Mitigasi Bencana di Sekolah
Jawa Timur memiliki wilayah yang rentan terhadap 14 jenis potensi bencana. Mulai dari banjir, kebakaran, tanah longsor, hingga tsunami. Oleh karena itu, mitigasi bencana harus dilakukan secara sistematis, terutama di lingkungan pendidikan. Program SPAB menjadi salah satu upaya strategis untuk menangani hal ini.
Menurut Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno, mitigasi bencana di sekolah harus disesuaikan dengan karakter geografis masing-masing daerah. Wilayah perkotaan, misalnya, lebih rentan terhadap banjir dan kebakaran, sedangkan daerah pegunungan rawan longsor, sementara pesisir selatan berpotensi menghadapi tsunami.
”Pemahaman mitigasi siswa harus disesuaikan dengan ancaman di sekitarnya. Program SPAB tidak boleh dijalankan secara parsial atau sekadar formalitas, melainkan menjadi bagian integral dari kesadaran kolektif warga sekolah,” tegas Sri Untari.
Peran Sekolah sebagai Ruang Awal Membangun Kewaspadaan
Sekolah memiliki peran penting dalam membangun kewaspadaan dini terhadap bencana. Melalui program SPAB, siswa diajarkan untuk memahami risiko bencana dan cara menghadapinya. Selain itu, mereka juga diajak untuk menjadi agen perubahan dalam masyarakat, terutama dalam menjaga lingkungan sekitar agar lebih aman.
Program ini juga melibatkan pelatihan bagi tenaga pendidik dan kepala sekolah. Sebelumnya, telah diadakan pelatihan fasilitator SPAB yang diikuti oleh 39 peserta. Pelatihan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua pihak terlibat dalam proses implementasi SPAB.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Meski program SPAB telah dijalankan, masih ada tantangan dalam penerapannya. Salah satunya adalah memastikan bahwa setiap sekolah mampu mengintegrasikan kurikulum ini ke dalam aktivitas harian. Selain itu, perlu adanya evaluasi berkala untuk menilai efektivitas program dan memperbaiki kekurangan yang ada.
Harapan besar ditempatkan pada program ini, yaitu terciptanya generasi muda yang siap menghadapi bencana. Dengan pendidikan yang berbasis mitigasi, siswa akan lebih sadar akan risiko alam dan mampu bertindak cepat dalam situasi darurat.
Program SPAB menjadi langkah penting dalam membangun ketahanan masyarakat di Jawa Timur. Dengan kerja sama antara pemerintah, BPBD, dan lembaga pendidikan, diharapkan program ini dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi seluruh masyarakat.***





Saat ini belum ada komentar