Kenaikan Kasus Influenza A di Bandung, 10 Pasien Terkonfirmasi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jum, 9 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mencatat sebanyak 10 kasus influenza A yang dirawat hingga awal Januari 2026. Dari jumlah tersebut, dua pasien merupakan anak-anak berusia 9 bulan dan 11 tahun. Peningkatan ini terjadi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang dimulainya aktivitas sekolah.
Ketua Tim Pinere RSHS Bandung, dr. Yovita Hartantri, mengatakan bahwa peningkatan kasus influenza A sudah terpantau sejak Agustus tahun lalu, dan mencapai puncak pada Oktober 2025. Meskipun kasus menurun pada November 2025, kenaikan kembali terjadi pada awal tahun 2026.
Seluruh pasien yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) menjalani skrining sehingga kasus dapat terdeteksi lebih awal. Dari data Januari ini tercatat ada 10 kasus influenza A. Dua di antaranya anak-anak, sementara sebagian besar lainnya berusia 20 hingga 60 tahun.
Kondisi Pasien dengan Kasus Berat
Dari 10 kasus tersebut, terdapat dua pasien dengan kondisi berat yang harus dirawat di ruang intensif karena membutuhkan bantuan oksigen. Pasien dengan kondisi berat umumnya memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Hal ini menunjukkan pentingnya pengawasan kesehatan bagi individu dengan risiko tinggi.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, dr. Iwan Abdul Rachman, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi situasi ini. Menurutnya, influenza bersifat musiman dan berbeda dengan kondisi pandemi. Penularan influenza terjadi melalui droplet, sehingga pencegahan utamanya adalah menggunakan masker saat sakit, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari penularan ke orang lain.
Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Pencegahan
Dalam kesempatan yang sama, dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSHS, dr. Ferdy Ferdian, mengingatkan pentingnya langkah pencegahan di lingkungan sekolah dan keluarga. Anak-anak bisa membawa dan menularkan influenza saat mobilitas meningkat. Pencegahan yang bisa dilakukan antara lain membiasakan cuci tangan dengan benar, memakai masker jika sedang batuk atau pilek, serta tidak memaksakan anak masuk sekolah saat sakit.
Pihaknya juga menekankan peran orang tua dan sekolah untuk memantau kondisi kesehatan anak. Anak dengan demam, batuk, atau sesak napas disarankan beristirahat di rumah dan mendapatkan pengobatan agar tidak menularkan ke teman sekelas.
Pandangan Menteri Kesehatan tentang Superflu
Terpisah, dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa kasus super flu atau Influenza A H3N2 subclade K bukan ancaman pandemi mematikan seperti Covid-19 pada 2020 lalu. Ia menjelaskan bahwa virus ini menyebar cepat, tetapi tingkat kematian sangat rendah.
“Kalau imunitas, sistem imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, Insya Allah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti yang Superflu ini, kita bisa sembuh,” ujar Budi.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, khususnya pada masa transisi masuk sekolah, guna menekan risiko penularan influenza di lingkungan keluarga dan sekolah.
Data dan Analisis dari Kemenkes
Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengungkap hasil analisis 40 persen dari 800 sampel positif influenza dari daerah-daerah yang kemudian dikirim ke Lab Biokesmas Jakarta. Data ini mencakup Influenza A H1N1 pdm09, H3N2 subclade K (62 kasus), dan Influenza B.
Aji menyebut bahwa dari 62 pasien yang dideteksi mengalami super flu, kondisinya sudah kembali normal. “Itu sudah sehat semua, sebetulnya. Karena itu kan datanya 62 itu kita dapat di minggu ke-36, 2025. Atau minggu pertama September. Jadi tidak ada yang sakit berat, tidak ada yang meninggal.”
Gejala dari super flu ini mirip dengan flu biasa seperti demam dengan suhu 38-39°C, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, serta sesak nafas ringan. Mayoritas demam menjadi keluhan utama.
Pemantauan Harian oleh Kemenkes
Kemenkes terus memperkuat pemantauan harian via Sentinel ILI/SARI di 88 puskesmas, lab daerah, rumah sakit, serta Balai Karantina dengan thermal scanner di pintu masuk negara. Hal ini dilakukan untuk memastikan situasi terkini dapat dipantau secara efektif.
Aji menegaskan bahwa Kemenkes tetap memantau laporan-laporan dari World Health Organization (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan laporan lokal untuk menentukan kebijakan berbasis fakta. Langkah-langkah seperti sekolah online atau work from home massal yang dilakukan di Inggris tidak diterapkan di Indonesia.***





Saat ini belum ada komentar