Broken Strings Book Karya Aurelie Moeremans, Perkenalan dengan Konsep Child Grooming
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sen, 12 Jan 2026
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Child grooming adalah proses yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun hubungan emosional dengan anak-anak, dengan tujuan untuk memanipulasi dan mengeksploitasi mereka. Proses ini sering kali dimulai dengan memberikan perhatian khusus atau hadiah kepada korban, sehingga membuat mereka merasa istimewa. Pelaku juga biasanya mengisolasi korban dari keluarga dan teman-temannya, sehingga korban hanya memiliki pelaku sebagai satu-satunya tempat berpegang.
Dalam konteks modern, child grooming bisa terjadi di berbagai lingkungan, termasuk di dunia maya. Anak-anak yang terpapar media sosial cenderung lebih rentan terhadap tindakan ini karena akses yang mudah dan kurangnya pengawasan orang tua. Dengan adanya buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, topik ini kembali menjadi sorotan, memberikan wawasan mendalam tentang pengalaman pribadi yang dialaminya.
Pengalaman Aurelie Moeremans dalam Buku Broken Strings
Aurelie Moeremans, seorang aktris ternama, mengungkapkan pengalamannya sebagai korban child grooming melalui bukunya Broken Strings. Ia menceritakan bagaimana dirinya digrooming saat berusia 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali lipat usianya. Proses ini melibatkan manipulasi dan kontrol, serta proses belajar menyelamatkan diri sendiri.
“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku digrooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku. Tentang manipulasi, kontrol, dan proses pelan-pelan belajar menyelamatkan diri sendiri,” tulis Aurelie Moeremans dalam unggahannya.
Buku ini ditulis tanpa romantisasi, dari sudut pandang korban. Ia ingin memberikan kesadaran bahwa child grooming bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Dengan cerita ini, ia berharap dapat membantu mencegah terjadinya kasus serupa di masa depan.
Taktik yang Digunakan Pelaku Child Grooming
Pelaku child grooming menggunakan berbagai taktik untuk memperoleh kepercayaan korban. Salah satunya adalah dengan memberikan perhatian khusus atau hadiah, sehingga korban merasa dihargai dan istimewa. Mereka juga sering memperlakukan korban seperti orang dewasa, yang membuat korban merasa lebih matang dari usianya.
Selain itu, pelaku juga mencoba mengisolasi korban dari keluarga dan teman-temannya. Dengan cara ini, korban hanya memiliki pelaku sebagai satu-satunya tempat berpegang. Hal ini mempermudah pelaku untuk melakukan manipulasi dan eksploitasi.
Beberapa pelaku juga menggunakan taktik “rahasia bersama” untuk mengendalikan atau menakut-nakuti anak. Mereka bahkan bisa memeras atau membuat anak merasa malu atau bersalah, agar sang korban tidak menceritakan pelecehan tersebut kepada siapa pun.
Tanda-Tanda Child Grooming yang Perlu Diperhatikan
Orang tua dan orang dewasa lainnya perlu waspada terhadap tanda-tanda child grooming. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan antara lain:
- Anak mulai menghabiskan lebih banyak waktu di dunia maya atau di luar rumah.
- Anak bersikap tertutup tentang aktivitasnya, terutama di platform internet.
- Anak tiba-tiba menerima hadiah atau pemberian yang tidak jelas asalnya.
- Anak mulai berteman dengan orang yang lebih tua.
- Anak mulai sering berbohong tentang kegiatannya.
- Anak mengetahui istilah-istilah yang tidak layak untuk usianya, terutama yang berkaitan dengan seksual.
- Anak mulai mengonsumsi hal-hal yang belum boleh mereka konsumsi.
Dampak Child Grooming pada Korban
Dampak dari child grooming sangat merusak bagi anak. Korban sering kali mengalami trauma psikologis yang berkepanjangan. Beberapa dampak yang mungkin dialami antara lain:
- Gangguan kecemasan dan depresi.
- Kesulitan dalam membangun hubungan sosial.
- Rasa malu dan stigma yang berkepanjangan.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) RI sudah lama menaruh perhatian soal masalah ini. Kementerian juga membuka layanan pengaduan resmi SAPA 129 untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Layanan ini dapat diakses melalui telepon 129 atau WhatsApp di nomor 08111 129 129 dan website laporsapa129.kemenpppa.go.id.
Child grooming adalah isu yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat. Dengan adanya buku Broken Strings, Aurelie Moeremans memberikan wawasan penting tentang pengalaman pribadinya. Orang tua dan masyarakat harus lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul, serta meningkatkan kesadaran akan bahaya dari tindakan ini. Dengan langkah-langkah pencegahan dan pendidikan yang tepat, kita dapat melindungi anak-anak dari risiko yang tidak diinginkan.***





Saat ini belum ada komentar