Perayaan Haul Gus Dur Ke-16 Toleransi dan Keadilan, Yenny Wahid: Gus Dur Milik Seluruh Umat Manusia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Jumat, 19 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

(pustakaiman)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM –Â Perayaan haul ke-16 Gus Dur di Taman Bungkul, Surabaya, menjadi momen penting dalam mengenang sosok tokoh yang memperjuangkan nilai-nilai toleransi, demokrasi, dan keadilan. Acara ini tidak hanya dihadiri oleh kalangan Muslim, tetapi juga oleh berbagai latar belakang agama dan masyarakat luas, menunjukkan bahwa pesan Gus Dur telah melampaui batas-batas keagamaan dan nasional.
Pesan Gus Dur yang Berlaku Universal
Yenny Wahid, putri dari mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, menyampaikan bahwa ayahnya bukan hanya milik umat Islam atau bangsa Indonesia, tetapi juga milik seluruh umat manusia. Ia menjelaskan bahwa pemikiran Gus Dur diterima secara lintas agama dan budaya, sehingga ia memiliki pengaruh yang sangat luas.
“Gus Dur bukan hanya milik orang Islam, bukan hanya milik Indonesia, tapi milik seluruh dunia. Saya senang sekali meskipun acaranya haul, tapi yang hadir berasal dari berbagai latar belakang agama. Ini menunjukkan Gus Dur benar-benar hidup di hati masyarakat,” ujar Yenny.
Demokrasi sebagai Fondasi Kepemimpinan
Salah satu tema utama dalam perayaan haul ini adalah “Budaya Etika Meneladani Demokrasi Gus Dur”. Yenny menegaskan bahwa demokrasi menurut Gus Dur berpijak pada kedaulatan rakyat, di mana pemimpin wajib mendengarkan suara masyarakat. Hal ini menjadi pengingat bagi para pejabat publik untuk tetap menjaga hubungan yang baik dengan rakyat dan tidak mudah membuat pernyataan yang bisa menyakiti hati masyarakat.
“Ketika Gus Dur menjadi presiden, beliau selalu mendengarkan suara rakyat. Dalam semangat haul ini, kita ingin mengingatkan para pejabat agar selalu mendengarkan suara hati masyarakat,” tegas Yenny.
Penghormatan terhadap Perempuan dan Agama Lain
Selain itu, Yenny juga mengingatkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang sangat menghormati perempuan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta toleransi antarumat beragama. Ia menjelaskan bahwa Gus Dur percaya bahwa setiap agama adalah ciptaan Tuhan dan harus dihormati, terlepas dari perbedaan keyakinan.
“Gus Dur menghormati perempuan, menghargai agama lain, dan menjalankan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Meskipun berbeda agama, tetap harus dihormati karena itu ciptaan Tuhan,” jelasnya.
Peran Gus Dur dalam Membela Wong Cilik
Gus Dur dikenal sebagai pembela wong cilik dan selalu mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama. Pesan sederhana yang sering disampaikannya adalah “tonggo ojok dijak tukaran”, artinya, jangan saling memusuhi hanya karena perbedaan agama.
“Pesan Gus Dur sederhana, tonggo ojok dijak tukaran. Beda agama ya biarkan, jangan dimusuhi,” pungkas Yenny.
Tanggapan dari Tokoh Lintas Agama
Simon Filantropa, perwakilan dari Gereja Kristen Indonesia (GKI), mengatakan bahwa Gus Dur telah mengajarkan banyak hal kepada masyarakat lintas agama. Ia menekankan bahwa Gus Dur mengusung pemahaman akan pentingnya keadilan bagi seluruh bangsa Indonesia.
”Kata Gus Dur, kerukunan dan perdamaian tanpa keadilan itu ilusi. Ini penggalan kata yang sangat dalam bagi kami minoritas. Sungguh kita semua kehilangan sosok Gus Dur. Tapi, kenapa pakai kaos ini (gambar Gus Dur)? Karena sejak Beliau wafat, sejak itulah Beliau Pahlawan bagi kami,” tegas Simon.
Keberagaman dalam Perayaan
Haul Gus Dur ke-16 dan Tasyakuran Gelar Pahlawan Nasional dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama, termasuk Pemprov Jatim, Pemkot Surabaya, jamaah pengajian se-Surabaya, warga etnis Tionghoa, dan seluruh warga dari berbagai daerah di Jawa Timur. Acara ini menjadi simbol persatuan dan toleransi yang diharapkan dapat terus dipertahankan. ***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar