Bursa Ketua DPC PDIP Surabaya: Armuji, ‘Kaji Ipuk’, atau Eri — Siapa Penentu Arah?
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 18 Des 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM — Penjaringan calon Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya memasuki babak final setelah rangkaian Konfercab di 31 kecamatan. Dari hasil penjaringan akar rumput muncul tiga nama yang paling sering disebut sebagai front-runner: Ir. H. Armuji, M.H. (Wakil Wali Kota Surabaya); H. Syaifuddin Zuhri (Kaji Ipuk) — Sekretaris Komisi A DPRD Surabaya; dan M. Eri Irawan — Ketua Komisi C DPRD Surabaya. Ketiga nama ini merepresentasikan tiga blok politik dan strategi kaderisasi yang berbeda di tubuh PDIP Surabaya.
Armuji — Kader Senior, Basis Mesin & Pengalaman Eksekutif
Siapa: Armuji (lahir 1965) adalah kader lama PDIP yang menapaki karier legislatif sejak era 1999—pernah menjabat anggota DPRD dan dua periode sebagai Ketua DPRD Surabaya—dan kini menjabat Wakil Wali Kota Surabaya dalam pemerintahan hasil Pilkada 2020/2024.
Kekuatan:
Jaringan lama dan penguasaan mesin partai di level struktural; kemampuan mengamankan dukungan internal dari kalangan elite yang selama ini mengelola sumber daya partai.
Pengalaman eksekutif yang menjanjikan akses anggaran dan relasi birokrasi—nilai jual penting ketika DPC harus berperan dalam pemenangan Pilkada/Pemilu.
Kelemahan/Resiko:
Sebagai representasi kelompok lama, Armuji berhadapan dengan tekanan tuntutan regenerasi; citra “kader lama” dapat dipersepsikan kurang “nyambung” dengan pemilih milenial yang kini mendominasi peta elektoral.
Syaifuddin Zuhri (Kaji Ipuk) — Operator Partai dan Konsolidator Akar Rumput
Siapa: Syaifuddin Zuhri tercatat sebagai kader aktif PDIP (Ketua PAC Pakal) dan saat ini menjabat sebagai Anggota DPRD / Sekretaris Komisi A; dalam sejarah internal ia juga tercatat aktif dalam struktur DPC/DPRD sebelumnya dan dikenal sebagai komunikasi politik partai di level kecamatan/PAC.
Kekuatan:
Akrab di tingkat PAC/Ranting (akar rumput) dan berperan merajut dukungan di level bawah; sosok operator yang dapat mengonsolidasikan struktur organisasi partai.
Posisi sekretaris Komisi A memberi pengalaman soal penganggaran dan kebijakan lokal—nilai tambah ketika DPC butuh figur administrasi yang “bisa urus partai”.
Kelemahan/Resiko:
Kurang memiliki “glamour” publik dibanding figur eksekutif (Armuji) atau figur muda populis (Eri); kapasitas menarik perhatian publik milenial mungkin lebih terbatas kecuali didukung kampanye internal kuat.
Eri Irawan — Wajah Kader Muda, Aksi Legislatif & Dukungan PAC
Eri Irawan adalah kader generasi muda PDIP yang kini menjabat Ketua Komisi C DPRD Surabaya dan disebut-sebut mendapatkan dukungan signifikan dari hasil penjaringan PAC (laporan lokal menyebut Eri meraih 16 suara PAC dalam tahap tertentu). Kiprahnya sebagai figur legislatif muda—termasuk isu-isu pro-reformasi dan penolakan beberapa proyek kontroversial—menempatkannya sebagai simbol perubahan.
Kekuatan:
Mendapat dukungan signifikan dari akar rumput dan PAC di beberapa penjaringan—sinyal kuat bahwa kader muda menempati ruang politik baru dalam PDIP Surabaya.
Citra progresif dan kedekatan dengan isu-isu yang resonan pada pemilih muda (mis. tata kota, kritik proyek besar) membuat Eri lebih “relevan” di mata generasi milenial/Gen Z.
Kelemahan/Resiko:
Keterbatasan pengalaman panjang di birokrasi partai dan jaringan elite dapat menjadi kendala jika DPP mengutamakan stabilitas mesin pemenangan dibandingkan transformasi cepat.
Peta Kelompok: “Lama” vs “Baru” — Bukan Semata Umur, Tapi Jaringan & Agenda
Analisis hasil penjaringan menunjukkan pembelahan tak lagi sekadar usia. Kelompok lama (diwakili Armuji) mengandalkan jaringan struktural, relasi birokrasi, dan legitimasi pengalaman pemerintahan. Kelompok operator/struktural (diwakili Syaifuddin) mengandalkan kemampuan merajut suara PAC dan konsolidasi internal.
Generasi baru (Eri) menempati ruang legitimasi moral—energi, isu progresif, dan resonansi dengan basis pemilih muda. Hasil akhir tidak hanya bergantung pada dukungan PAC, tetapi juga keputusan strategis DPD/DPP yang mempertimbangkan kalkulasi elektoral Pilkada/Pemilu.
Implikasi Politik: Surabaya sebagai Barometer, Dampak ke Daerah Lain
1. Surabaya (Langsung): Ketua DPC baru akan menentukan mesin pemenangan partai di kota—mulai dari pengaturan koalisi, penentuan calon kepala daerah, sampai pengelolaan basis massa. Pilihan antara Armuji, Kaji Ipuk, atau Eri akan menentukan apakah PDIP memilih stabilitas struktur, konsolidasi akar rumput, atau bergeser ke arah modernisasi kader.
2. Pengaruh Regional (Malang, Banyuwangi, dll): DPC Surabaya kerap menjadi pusat referensi politik bagi DPC lain di Jatim. Model kaderisasi dan strategi pemenangan yang diadopsi Surabaya (mis. prioritas kader muda vs mesin lama) bisa menjadi contoh yang direplikasi atau diresistensi di daerah-daerah kunci seperti Malang dan Banyuwangi—terutama jika PDIP ingin mempertahankan basis di kota besar sekaligus memperkuat basis di kabupaten yang lebih tradisional.
3. Dampak Elektoral Nasional: Keputusan DPP terhadap pemilihan Ketua DPC Surabaya akan menjadi sinyal lebih luas tentang arah PDIP: apakah akan menajamkan agenda regenerasi nasional atau mengutamakan stabilitas politis menjelang Pemilu. Pilihan ini bisa mempengaruhi momentum kader muda PDIP di level nasional.
Siapa Berpotensi Diuntungkan / Dirugikan?
Diuntungkan jika Armuji terpilih: Kestabilan hubungan antara Pemkot dan DPC, akses anggaran dan birokrasi, posisi tawar dalam koalisi lokal lebih kuat. Namun, risiko alienasi pemilih muda jika tidak dibarengi strategi komunikasi generasi baru.
Diuntungkan jika Syaifuddin terpilih: Konsolidasi PAC dan akar rumput lebih mudah; DPC menjadi mesin organisasi yang rapi. Tantangannya: perlu usaha memperkuat citra publik agar tidak sekadar “operator internal”.
Diuntungkan jika Eri terpilih: PDIP mengirim sinyal kuat ke pemilih muda—memodernisasi citra partai dan menjaring pemilih milenial. Risiko: gesekan dengan elite lama dan tantangan mengelola sumber daya partai yang selama ini dipegang kawalan struktur senior.
Proses Keputusan
Meski hasil penjaringan PAC memberi indikator kuat, keputusan akhir tetap ada di tangan DPP PDIP yang akan menimbang antara dinamika akar rumput, kebutuhan elektoral, dan stabilitas organisasi. Apakah PDIP memilih wajah lama yang mampu menjamin koalisi dan birokrasi, atau wajah baru yang menjemput suara milenial—pilihan itu akan terlihat dari nama yang keluar sebagai Ketua DPC Surabaya. (dk/nw)

>
>
>
