1.000 Penari Bawa Sembrani Bumi Nusantara 2025 ke Lidah Wetan Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sen, 6 Okt 2025
- comment 0 komentar

Tradisi Napak Tilas Sembrani Bumi Nusantara 2025 Kembali Digelar di Surabaya
DIAGRAMKOTA.COM – Tradisi kebudayaan leluhur yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Surabaya, yaitu napak tilas, kembali dilaksanakan. Tahun ini, Pemkot Surabaya menyelenggarakan acara besar bertajuk Sembrani Bumi Nusantara (SBN) 2025 yang menarik ribuan peserta. Acara ini diselenggarakan pada hari Minggu, 5 Oktober 2025, dan menjadi momen penting untuk melestarikan nilai-nilai sejarah serta budaya lokal.
Napak tilas berasal dari kata “napak” yang berarti menapak, dan “tilas” yang berarti bekas atau jejak. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan upaya untuk menapaki jejak masa lalu. Dalam praktiknya, kegiatan ini melibatkan kunjungan ke lokasi-lokasi bersejarah sebagai bentuk refleksi terhadap perjuangan dan kejadian masa lalu. Acara ini juga dilengkapi dengan upacara, doa, atau diskusi sejarah yang memperkaya pemahaman peserta terhadap tradisi dan sejarah daerah.
Pada tahun ini, sekitar 1.000 penari remo dari berbagai sanggar turut serta dalam acara. Selain itu, ratusan penari juga berasal dari beberapa sekolah seperti SD Negeri Babatan 4, SD Negeri Lidah Wetan IV 467, SD Negeri Lidah Wetan II 462, SKP Negeri 28, dan SMP Negeri 40. Para peserta berjalan dari Kelurahan Lidah Wetan menuju Taman Bungkul, Surabaya, membawa semangat dan kebanggaan terhadap budaya daerah.
Selain tarian, acara juga menampilkan pertunjukan teatrikal musikal yang mengangkat cerita Joko Berek, sosok penting dalam sejarah Kota Surabaya. Cerita ini menceritakan perjalanan Joko Berek yang mencari ayah kandungnya, Kanjeng Adipati Jayengrono III, sambil membawa selendang pemberian ibunya. Cerita ini menjadi simbol perjuangan dan cinta tanah air.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, melalui Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Dispbudporapar) Surabaya, Hidayat Syah, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan tradisi ini. Menurutnya, acara ini menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda yang mungkin belum mengetahui cerita Sembrani Bumi Nusantara. Ia juga menekankan pentingnya pelestarian budaya, terutama di wilayah Lidah Wetan yang memiliki sejarah mendalam tentang Joko Berek.
Hidayat berharap kegiatan ini dapat meningkatkan antusiasme generasi muda terhadap tradisi dan sejarah yang menjadi legenda. Di tengah acara, ia juga meresmikan Monumen Patung Jago.Ne Suroboyo di perempatan Jalan Raya Menganti, Kecamatan Lakarsantri. Patung berbentuk ayam jago ini melambangkan Sawunggaling yang datang ke Surabaya bersama ayam jago kesayangannya. Menurut Hidayat, patung ini bisa menjadi daya tarik wisata di wilayah tersebut dan menjadi simbol kelestarian budaya.
Camat Lakarsantri, Yongky Kuspriyanto Wibowo, juga menyampaikan permintaan maaf kepada pengguna lalu lintas yang terganggu akibat acara. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan yang sudah menjadi bagian dari kota Surabaya. Yongky menambahkan bahwa target penari untuk kegiatan Napak Tilas tahun depan adalah 2.000 peserta agar lebih meriah.
Acara ini juga dihadiri oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), RT/RW, jajaran kelurahan dan kecamatan, budayawan, pelajar, serta masyarakat umum. Berbagai kegiatan menarik lainnya turut dihadirkan, seperti teatrikal musikal Joko Berek dan Sawungsari, kuliner jajanan ndeso, tumpengan, dan ditutup dengan sedekah bumi nusantara di Taman Bungkul, Surabaya. ***





Saat ini belum ada komentar