Menuju 100 Tahun! Janji Azrul Ananda ke Bonek, Juara Liga Indonesia
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM – Menghadapi usia seratus tahun, Persebaya Surabaya memiliki satu janji besar yang pernah diucapkan oleh Presiden Klub Azrul Ananda kepada para penggemarnya, Bonek. Ia menegaskan niat dari Green Force untuk meraih gelar juara Liga Indonesia sebelum mencapai usia 100 tahun.
Janji itu diungkapkan dalam perayaan ulang tahun ke-94 Persebaya Surabaya pada Juni 2021, saat klub dan sepak bola nasional mengalami hambatan akibat pandemi Covid-19. Banyak klub harus menyesuaikan target mereka, termasuk Persebaya Surabaya yang memilih pendekatan yang lebih realistis.
Pihak manajemen pada masa itu menetapkan target untuk finis di posisi teratas Liga 1 Indonesia musim 2021/2022. Persebaya Surabaya tidak mengutamakan pencarian gelar, tetapi lebih fokus pada pembentukan struktur tim untuk masa depan.
Di balik tujuan jangka pendek, Azrul memiliki rencana besar yang jauh lebih ambisius. Ia menekankan pentingnya Persebaya Surabaya berkembang menjadi sebuah klub modern, profesional, dan mandiri. Salah satu impiannya adalah mengantarkan Persebaya Surabaya masuk ke pasar modal sebelum mencapai usia seratus tahun.
“Saya berharap klub ini menjadi entitas yang mandiri secara keuangan dan profesional,” tegas Azrul dalam pernyataannya pada saat itu.
IPO dianggap sebagai jalur menuju kestabilan dan kompetitif dalam jangka panjang. Persebaya Surabaya berharap memiliki kemampuan keuangan yang sejajar dengan klub besar Asia, sehingga mampu bertahan kuat di masa sepak bola modern.
Namun, ambisi utamanya tetap gelar juara Liga Indonesia.
“Saya sangat yakin Persebaya bisa menjadi juara sebelum berusia 100 tahun,” kata Azrul sambil menekankan bahwa masih ada faktor X yang sering memengaruhi persaingan merebut gelar.
Ia menilai perkembangan pemain muda sebagai dasar strategis dalam merealisasikan impian tersebut.
Di musim 2021/2022, sebagian besar pemain Persebaya Surabaya masih berusia di bawah 30 tahun dan dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Gabungan pemain lokal yang penuh semangat dan pemain asing berkualitas menjadi bekal untuk menghadapi kompetisi jangka panjang. Persebaya Surabaya berharap bisa berkembang secara konsisten, bukan sekadar instan.
Namun, memasuki musim 2025/2026, perjalanan tersebut menghadapi tantangan berat. Performa Persebaya Surabaya masih goyah dan terjebak di tengah klasemen hingga pekan ke-14 Super League. Green Force berada di posisi kedelapan dengan 17 poin dari 12 pertandingan. Hasil empat kemenangan, lima imbang, dan tiga kekalahan menunjukkan ketidakstabilan yang masih menghantui tim.
Kinerja tim mencatat 14 gol dan kebobolan 12 gol, menunjukkan ketidakseimbangan yang belum sepenuhnya optimal. Efisiensi serangan juga masih kurang maksimal dengan tingkat akurasi tembakan sebesar 42 persen dari total 112 percobaan. Sementara itu, dalam hal penguasaan bola, Persebaya Surabaya mampu melakukan 3.708 umpan dengan akurasi 79 persen sebagai upaya membangun alur permainan yang lebih terencana.
Namun, kualitas umpan penetrasi dan umpan umpan depan belum memberikan dampak optimal terhadap gol. Pertahanan berusaha keras dengan 248 intersepsi, 218 sapuan, dan 30 blok tembakan. Meskipun demikian, hanya dua clean sheet yang berhasil dicatatkan menunjukkan masih ada kekurangan dalam menjaga konsentrasi.
Kondisi semakin memburuk setelah pelatih utama Eduardo Perez dipecat usai hasil imbang 1-1 melawan Arema FC pada pekan ke-13. Evaluasi yang dilakukan oleh manajemen berujung pada keputusan mengganti pimpinan tim untuk memperbaiki arah permainan.
Sekarang tim diarsiteki oleh caretaker Uston Nawawi yang diharapkan mampu menghadirkan semangat baru. Uston memiliki kedekatan emosional dengan klub serta pengalaman internal yang dapat menjadi pemicu motivasi para pemain. Perubahan ini menjadi awal bagi Persebaya Surabaya untuk kembali mengejar stabilitas performa. Tim membutuhkan seorang pelatih yang mampu membangkitkan intensitas, keberanian, dan karakter khas Green Force.
Di kondisi yang tidak menguntungkan ini, janji Azrul untuk menjadi juara sebelum berusia 100 tahun kembali menjadi pedoman moral. Ucapannya menjadi pengingat bahwa proses menuju puncak selalu melalui tahap-tahap yang sulit.
Bonek tetap menjadi kekuatan utama yang mendorong klub terus berkembang. Dukungan mereka menjadi sumber semangat yang tidak bisa digantikan oleh pemain.
Harapan kini berpindah kepada pelatih utama yang segera tiba untuk memberikan pandangan baru. Persebaya Surabaya membutuhkan seorang pengambil keputusan yang mampu memaksimalkan pemain muda dan mengenali potensi taktis tim dengan tepat.
Dengan dasar yang telah terbentuk selama beberapa tahun terakhir, kesempatan untuk bangkit selalu tersedia. Green Force hanya perlu mengembalikan kepercayaan diri untuk terus berkembang.
Keinginan untuk mencapai seratus tahun bukan hanya sekadar perayaan, tetapi kesempatan untuk menegaskan identitas klub yang selalu memiliki impian besar.
Persebaya Surabaya kini berada di ambang batas penting untuk memastikan janji presidennya tidak hanya menjadi wacana. Muncul pertanyaan yang terus muncul dalam pikiran para penggemar Persebaya: apakah Persebaya Surabaya bisa menyelesaikan perjalanan menuju usia 100 tahun dengan sesuatu yang paling mereka harapkan, yaitu gelar juara Liga Indonesia? ***





Saat ini belum ada komentar