Arsitek Lanskap Soroti Perencanaan Kota Pasca Pohon Tumbang di Jakarta
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sab, 22 Nov 2025
- comment 0 komentar

DIAGRAMKOTA.COM — Asosiasi Arsitek Lingkungan Indonesia (IALI) menganggap bahwa isupohon tumbangmerupakan isu yang bersifat kompleks, mencakup aspek pengelolaan, perawatan, perencanaan, hingga pelaksanaan teknis di lapangan.
Ketua Umum IALI Rahman Andra Wijaya mengungkapkan peristiwa pohon roboh yang terjadi belakangan ini tidak hanya mengganggu kegiatan masyarakat, tetapi juga mengancam keselamatan penduduk serta merusak fasilitas kota.
Berdasarkan laporan IALI, beberapa temuan awal menunjukkan adanya tanda-tanda koordinasi antar sektor yang kurang baik, belum adanya standar pengelolaan pohon perkotaan yang tetap, serta cara perencanaan dan pembuatan lanskap yang belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip profesional dalam Arsitektur Lanskap.
Rahman menekankan bahwa pengelolaan pohon di perkotaan merupakan bagian penting dari lingkungan kota yang sehat, aman, dan berkelanjutan.
“Oleh karena itu, IALI mengajak seluruh pihak terkait, pemerintah daerah, BUMD, konsultan perencana, kontraktor, akademisi, serta masyarakat untuk melihat pohon sebagai aset infrastruktur hijau yang memerlukan pengelolaan berdasarkan ilmu pengetahuan, data, dan standar profesi,” katanya, Sabtu (22/11/2025).
Untuk meminimalkan bahaya pohon roboh dan meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau perkotaan, IALI menawarkan beberapa tindakan.
Beberapa langkah yang dimaksud meliputi penyusunan Standar Nasional atau Standar Daerah dalam pengelolaan pohon perkotaan. Hal ini mencakup inventarisasi pohon, penilaian kondisi (tree risk assessment), perawatan, pemangkasan, hingga prosedur penanaman yang sesuai dengan spesies, lokasi, dan teknik yang tepat.
Kedua, selanjutnya, yaitu pembentukan Unit Khusus Pengelolaan Pohon (Urban Tree Management Unit)
Terdiri dari para ahli dalam bidang pohon, perancang taman, ahli pertanian, serta teknisi lapangan yang bekerja bersama secara terpadu di bawah pemerintahan daerah.
Ketiga, Audit Pohon Prioritas dilakukan secara rutin, khususnya di jalur protokol, wilayah dengan aktivitas publik yang padat, area rentan angin kencang, serta tempat yang memiliki infrastruktur bawah tanah.
Keempat, Peningkatan Sistem Perencanaan dan Pembangunan Lanskap. Tujuannya adalah memastikan setiap proyek ruang terbuka hijau (RTH), jalan, saluran air, serta fasilitas pendukung mematuhi standar akar, media tanam, jarak tanaman, serta perlindungan ruang tumbuh pohon.
Terakhir, yaitu Penguatan Koordinasi Antar Sektor Termasuk penyelarasan data dan prosedur operasional antara Dinas Pertamanan, Dinas Bina Marga, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Lingkungan Hidup, hingga pihak swasta yang menyediakan utilitas. ***





Saat ini belum ada komentar