Kekhawatiran Industri Manufaktur Akibat Impor 105.000 Unit Pick up India
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Pengumuman rencana impor sebanyak 105.000 unit kendaraan pick up India dalam satu tahun fiskal memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri manufaktur di Indonesia. Isu ini tidak hanya menjadi topik perdebatan di ranah perdagangan, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap struktur pasar domestik yang selama ini stabil.
Dampak Potensial pada Pasar Kendaraan Niaga Ringan
Dadang Asikin, Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA), mengungkapkan bahwa tambahan volume impor tersebut dapat mengganggu keseimbangan pasar kendaraan niaga ringan nasional. Ia menilai bahwa segmen kendaraan 4×2 dan 4×4 yang memiliki volume produksi lebih rendah dibandingkan kendaraan penumpang akan sangat rentan terhadap tekanan pasar.
“Jika impor 105.000 unit pick up benar-benar terealisasi dalam satu tahun fiskal, maka skenario terburuk yang mungkin terjadi adalah disrupsi pasar domestik kendaraan niaga ringan,” ujarnya kepada CNBC Indonesia.
Tekanan Harga dan Over-Supply
Lonjakan pasokan dalam waktu singkat berpotensi memicu over-supply, yang kemudian akan mengakibatkan perang harga. Hal ini akan berdampak langsung pada margin industri secara keseluruhan. Dadang menjelaskan bahwa ketika pasokan melampaui daya serap pasar, hukum supply dan demand akan bekerja.
“Tambahan sebesar itu berpotensi menciptakan over-supply. Dampaknya adalah perang harga yang akan menekan margin industri secara keseluruhan,” katanya.
Dampak pada Industri Hulu dan Pendukung
Tekanan harga tidak hanya dirasakan oleh distributor atau ATPM, tetapi juga akan berdampak pada industri hulu dan pendukung yang selama ini menjadi tulang punggung produksi kendaraan dalam negeri. Industri karoseri, pengecoran logam, stamping, welding, hingga perakitan mesin akan terdampak langsung.
“Turunnya utilisasi industri lokal tidak bisa dihindari. Industri karoseri, pengecoran logam, stamping, welding, hingga perakitan mesin akan terdampak langsung,” jelas Dadang.
Ancaman bagi UMKM Komponen
Pelaku UMKM komponen sebagai pihak paling rentan juga akan merasakan dampak dari rencana impor ini. Supplier kecil seperti bengkel machining, fabrikasi kecil, pengecatan, dan usaha komponen lain bisa kehilangan order. Konsekuensinya adalah pengurangan jam kerja hingga PHK bertahap.
“Supplier kecil seperti bengkel machining, fabrikasi kecil, pengecatan, dan usaha komponen lain bisa kehilangan order. Konsekuensinya adalah pengurangan jam kerja hingga PHK bertahap,” tegas Dadang.
Perlu Kebijakan yang Terukur dan Konsisten
Ia mengingatkan bahwa kondisi ini bisa menjadi titik awal pelemahan struktur industri jika tidak segera diantisipasi dengan kebijakan yang terukur dan konsisten. Jika tidak dikendalikan, kombinasi over-supply dan tekanan harga bisa mempercepat pelemahan industri nasional yang selama ini kita bangun.
“Jika tidak dikendalikan, kombinasi over-supply dan tekanan harga bisa mempercepat pelemahan industri nasional yang selama ini kita bangun,” ujar Dadang.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar