Inisiatif Komunitas Alam Hijau dalam Mengelola Sampah di Probolinggo
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks, muncul inisiatif kreatif dari komunitas lokal yang berupaya mengubah masalah menjadi solusi. Di Desa Sebaung, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Komunitas Alam Hijau telah menunjukkan bagaimana sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya bernilai. Proses ini tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap kesuburan tanah dan kesehatan ekosistem.
Perjalanan Awal Komunitas Alam Hijau
Komunitas Alam Hijau dibentuk pada tahun 2018 oleh sejumlah pemuda desa yang peduli terhadap kondisi lingkungan. Mereka melihat bahwa sampah, terutama sampah organik, sering kali dianggap sebagai masalah yang tidak bisa diatasi. Namun, bagi mereka, ini justru menjadi peluang untuk melakukan perubahan.
Ketua Komunitas Alam Hijau, Mohammad Taufik, mengungkapkan bahwa awalnya mereka hanya ingin membersihkan lingkungan. Tapi seiring waktu, mereka menyadari bahwa sampah yang dikelola dengan baik bisa menjadi bahan baku yang bermanfaat.
“Komunitas ini berdiri sebagai wujud keprihatinan terhadap lingkungan yang tidak terjaga. Kalau tidak ada yang peduli, maka lingkungan akan rusak,” ujar Taufik.
Proses Pengolahan Sampah Organik
Salah satu langkah utama yang dilakukan oleh Komunitas Alam Hijau adalah mengolah sampah organik menjadi air lindi. Proses ini membutuhkan kesabaran dan pengetahuan teknis. Air lindi sendiri merupakan cairan yang dihasilkan dari proses penguraian bahan organik, dan memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, cocok untuk digunakan sebagai pupuk alami.
Selain itu, komunitas ini juga rutin melakukan kegiatan seperti kerja bakti lingkungan dan penanaman pohon. Aktivitas ini bukan hanya sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga bagian dari upaya jangka panjang untuk menjaga keseimbangan ekologis di wilayah tersebut.
Dampak Positif yang Dirasakan
Hasil dari usaha ini sangat terasa. Lingkungan sekitar desa kini lebih bersih, dan masyarakat mulai sadar akan pentingnya pengelolaan sampah. Selain itu, hasil olahan sampah juga memberikan manfaat langsung kepada petani setempat yang menggunakan air lindi sebagai pupuk alami.
Taufik menambahkan bahwa meski proses pengolahan memakan waktu, dampaknya sangat signifikan. “Kalau tempat pembuangan sampah menggunung, maka akan timbul persoalan baru,” katanya.
Kesadaran Masyarakat yang Berkembang
Dari pengalaman mereka, Komunitas Alam Hijau menyadari bahwa kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sampah masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, mereka tidak hanya fokus pada pengolahan sampah, tetapi juga memberikan edukasi kepada warga tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Seiring waktu, komunitas ini juga mulai menarik perhatian dari pihak lain, termasuk organisasi lingkungan dan lembaga pendidikan. Mereka berharap inisiatif ini bisa menjadi contoh bagi komunitas lain di daerah lain.
Harapan untuk Masa Depan
Meski masih ada tantangan, Komunitas Alam Hijau tetap optimis. Mereka percaya bahwa dengan kerja sama dan kesadaran yang meningkat, lingkungan bisa dikelola dengan lebih baik. Dalam beberapa tahun ke depan, mereka berencana untuk memperluas program pengolahan sampah dan memperkuat kolaborasi dengan pihak-pihak terkait.
“Jika kita bersama-sama, maka kita bisa menciptakan perubahan yang nyata,” tutup Taufik.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar