Jason Putera Hendrata, Jejak Prestasi Anak Surabaya di Panggung Olimpiade Matematika Dunia
- account_circle Shinta ms
- calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM– Di usianya yang masih duduk di bangku senior secondary nama Jason Putra Hendrata mulai menorehkan jejak di panggung internasional.
Siswa SMAN 5 Surabaya ini baru saja meraih Silver Award for Excellent Achievement pada Final Round Fermat Mathematical Olympiad (FMO) 2025-2026, sebuah kompetisi matematika bergengsi yang digelar di Vietnam dan diikuti ribuan peserta dari berbagai negara.
Bagi Jason, perjalanan menuju podium internasional bukanlah cerita instan. Ia bahkan menjalani dua kompetisi besar secara beruntun dalam waktu yang nyaris tanpa jeda. Sebelumnya, Jason mengikuti Southeast Asian Mathematical Olympiad (SEAMO) yang finalnya digelar di Bali. Menariknya, ia tidak sendiri. Sang adik, Jovan, turut mendampinginya menempuh jalur yang sama.
“Waktu itu ada dua lomba internasional. Yang pertama SEAMO, finalnya di Bali. Alhamdulillah saya lolos sampai nasional dan dapat gold. Adik saya juga sampai final dan dapat medali,” tutur Jason saat ditemui di SMAN 5 Surabaya dengan didampingi Wakil Kepala Sekolah di Bidang Kesiswaan Agus Widodo.
Belum sempat benar-benar beristirahat, Jason kembali mengepak koper. Hanya berselang sekitar satu minggu setelah dari Bali, ia langsung bertolak ke Vietnam untuk mengikuti Fermat Mathematical Olympiad (FMO) kompetisi dengan standar internasional yang lebih ketat dan atmosfer persaingan yang jauh lebih intens.
Di Vietnam, Jason berkompetisi selama empat hari bersama peserta dari berbagai belahan dunia.
Tidak hanya dari Asia Tenggara, tetapi juga dari Uzbekistan, Tajikistan, hingga kawasan sekitar Rusia. Total peserta mencapai ribuan, dengan rentang usia mulai dari siswa SD kelas 1 hingga SMA kelas 12. Jason sendiri turun di kategori Secondary (kelas 10).
“Yang beda itu standarnya. Semua pakai bahasa Inggris dan level soalnya benar-benar olimpiade. Kompetitornya juga nggak main-main,” ujarnya.
Persiapan Jason terbilang disiplin. Selama sebulan penuh sebelum lomba, ia fokus mempelajari past papers dan menghafal pola soal untuk memahami karakter ujian. Bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga strategi.
Meski begitu, tantangan terbesarnya bukan semata soal matematika. Language barrier menjadi kendala tersendiri, terutama karena tidak semua panitia dan peserta lokal fasih berbahasa Inggris. Namun di balik tantangan itu, Jason justru menemukan pengalaman berharga lainnya: relasi.
“Saya dapat banyak teman dari Turkmenistan, Uzbekistan, Timur Tengah. Passion-nya sama, matematika. Itu pengalaman yang nggak bisa didapat dari kelas,” katanya.
Di sela-sela prestasi akademiknya, Jason juga aktif di kegiatan kepramukaan. Namun ia mengakui, fokus harus dibagi dengan bijak. Saat musim olimpiade tiba, prioritas pun disesuaikan tanpa meninggalkan komitmen sepenuhnya.
Kini, setelah membawa pulang perak dari Vietnam, Jason tak ingin cepat berpuas diri.
Target berikutnya sudah menanti Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang akan digelar pertengahan tahun ini.
“Persiapannya harus lebih ekstra karena waktunya sudah dekat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar deretan medali, Jason menyimpan pesan sederhana namun bermakna bagi anak muda seusianya.
“Jangan terlalu terpaku sama nilai atau membandingkan diri dengan orang lain. Yang paling bisa menilai diri kita ya diri kita sendiri. Fokus di bidang yang kita kuasai dan berjuang di jalur itu,” tutur Pencipta Inovasi Tongkat tunanetra getar.
Dari Surabaya ke Bali, lalu menembus Vietnam, kisah Jason Putra Hendrata adalah potret tentang ketekunan, fokus, dan keberanian untuk melangkah di jalur sendiri dengan keluarga sebagai pendamping, dan mimpi yang terus dijaga. (sms)
- Penulis: Shinta ms

>
>
>
