Kurs Rupiah Menghadapi Tekanan, IMF Sebut Dolar AS Sedang Tertekan
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kurs rupiah kembali mengalami tekanan pada awal tahun 2026, meskipun dolar Amerika Serikat (AS) dalam tren melemah menurut laporan Dana Moneter Internasional (IMF). Hal ini menciptakan situasi yang membingungkan bagi investor dan pelaku pasar, karena pelemahan dolar biasanya diharapkan dapat memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat.
Menurut analisis IMF dalam World Economic Outlook Update edisi Januari 2026, sentimen negatif terhadap dolar AS meningkat akibat masalah independensi Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Ketua The Fed, Jerome Powell, tengah menghadapi investigasi terkait dugaan penyalahgunaan uang pajak terkait renovasi kantor pusat bank sentral. Situasi ini memicu ketidakpastian di kalangan investor global, sehingga mengurangi minat mereka untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap eksposur mereka.
Pergerakan Indeks Dolar AS dan Pengaruhnya Terhadap Rupiah
Indeks dolar AS (DXY) mencerminkan penurunan sebesar 0,20% menjadi 99,19 pada perdagangan Senin (19/1/2026). Pelemahan ini seharusnya membuka peluang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat. Namun, rupiah justru melemah hingga mencetak rekor terendah sepanjang masa, yaitu Rp16.935 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah sempat menguat 0,15% ke level Rp16.850 per dolar AS, tetapi akhirnya melemah kembali. Volatilitas tinggi tercatat sepanjang hari, dengan kurs bergerak antara Rp16.850 hingga Rp16.945 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah bahkan lebih besar dibandingkan beberapa mata uang Asia lainnya, seperti yuan China dan won Korea Selatan.
Respons Pemerintah dan Prediksi Kurs Rupiah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai tekanan terhadap rupiah tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyatakan bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) justru menguat, yang menunjukkan aliran modal asing yang positif. Menurutnya, rupiah akan segera membalikkan trennya setelah spekulasi tentang independensi Bank Indonesia (BI) reda.
“Rupiah akan tergantung pada fondasi ekonominya. Jika IHSG naik, maka pasti ada aliran modal asing yang masuk,” kata Purbaya. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga pertumbuhan ekonomi agar semakin cepat dan stabil.
Perbandingan Kurs Mata Uang Asia
Di tengah pelemahan dolar AS, beberapa mata uang Asia berhasil menguat. Contohnya, baht Thailand menguat 0,41% ke level THB 31,29 per dolar AS, sementara dolar Taiwan menguat 0,33%. Sementara itu, yen Jepang dan dolar Singapura juga menguat masing-masing sebesar 0,18% dan 0,15%.
Di sisi lain, yuan China menguat 0,06%, sedangkan ringgit Malaysia cenderung stagnan di posisi 4,055 per dolar AS. Meski demikian, rupiah tetap menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di kawasan Asia.
Prediksi dan Harapan Masa Depan
Meski saat ini rupiah menghadapi tekanan, para ahli optimis bahwa situasi akan segera membaik. Purbaya yakin bahwa setelah spekulasi terkait penggantian Deputi Gubernur BI reda, rupiah akan segera menguat. Ia menekankan bahwa pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat pertumbuhan.
“Kita akan terus memperbaiki fondasi ekonomi agar lebih kuat ke depan,” tegasnya. Dengan aliran modal asing yang stabil dan pertumbuhan ekonomi yang positif, harapan untuk kenaikan rupiah di masa mendatang tetap terbuka.***

>

Saat ini belum ada komentar