Sejarah Perpindahan Matra di TNI: Dari Operasi Trikora Hingga Kasus Rizki Juniansyah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Perpindahan matra di dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bukanlah hal yang baru. Praktik ini telah terjadi sejak awal pembentukan dan pengembangan kekuatan TNI, jauh sebelum perpindahan matra yang melibatkan atlet angkat besi nasional Rizki Juniansyah.
Perpindahan Matra dalam Sejarah TNI
Pengamat politik dan pertahanan keamanan Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, menegaskan bahwa perpindahan matra sudah menjadi bagian dari struktur TNI sejak awal. Ia mengilustrasikan dengan contoh pada masa persiapan Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat pada 1961-1962. Saat itu, dua perwira Korps Zeni Angkatan Darat dipindahkan ke matra laut untuk memperkuat Korps Komando Operasi (KKO) TNI Angkatan Laut, yang kini dikenal sebagai Korps Marinir.
“Peristiwa itu terjadi ketika TNI AL akan membentuk Batalyon Zeni KKO. Oleh karena itu pimpinan TNI AL meminta kepada pimpinan TNI AD, agar perwira pertama Korps Zeni Angkatan Darat ‘membidani’ kelahiran Yonzi (Batalyon Zeni) KKO AL,” jelas Selamat Ginting.
Keduanya adalah Lettu CZI TGM Harahap, lulusan Akademi Zeni Angkatan Darat (AZIAD) di Bandung, yang kemudian berubah nama menjadi Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Sujono satu angkatan dengan Letda CZI Try Sutrisno, yang kelak menjabat Wakil Presiden RI.
Perpindahan Korps di Lingkungan TNI
Selain perpindahan matra, Selamat juga menegaskan bahwa perpindahan korps di lingkungan TNI bukan hal yang luar biasa. Ia mengatakan, banyak perwira dari Korps Zeni, Korps Komunikasi Elektronika (Komlek), maupun Korps Peralatan yang berpindah ke Korps Infanteri.
“Terutama setelah mereka lulus pendidikan komando Kopassus,” ujarnya. Sebaliknya, ada pula perwira Korps Infanteri yang berpindah ke satuan bantuan administrasi, seperti Korps Ajudan Jenderal.
Perpindahan tersebut umumnya dilakukan karena kondisi fisik yang tidak lagi memungkinkan untuk bertugas di satuan tempur. “Karena kondisi fisik cacat atau cedera akibat pertempuran maupun kecelakaan,” tutur Selamat.
Perpindahan Rizki Juniansyah: Kenaikan Pangkat dan Perpindahan Matra
Kasus Rizki Juniansyah, atlet angkat besi nasional yang juga perwira TNI, menarik perhatian publik. Ia menerima kenaikan pangkat dua tingkat sekaligus, dari Letnan Dua menjadi Kapten, serta dipindahkan dari matra TNI Angkatan Laut ke TNI Angkatan Darat, setelah meraih medali emas dan memecahkan rekor dunia pada SEA Games 2025 Thailand.
Keputusan ini sempat menuai perbincangan publik karena dinilai tidak lazim, meski tetap berada dalam koridor aturan yang berlaku di lingkungan TNI. Kenaikan pangkat tersebut diumumkan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto saat penyerahan bonus atlet SEA Games di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Konteks dan Implikasi
Perpindahan matra dan kenaikan pangkat Rizki Juniansyah tidak hanya mencerminkan prestasi individu, tetapi juga menunjukkan bahwa sistem militer Indonesia memiliki fleksibilitas dalam pengaturan karier dan tugas. Hal ini juga memberi gambaran bahwa TNI tidak hanya fokus pada operasi militer, tetapi juga mengakui kontribusi para atlet yang berprestasi dalam bidang olahraga.
Selamat Ginting menekankan bahwa praktik ini tidak baru dan merupakan bagian dari mekanisme internal TNI yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan organisasi dan operasional. Dengan demikian, kasus Rizki Juniansyah bisa dilihat sebagai salah satu contoh nyata dari proses yang sudah ada sejak lama.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar