KemenPPPA Apresiasi Kekuatan Aurelie Moeremans dalam Mengungkap Trauma
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) memberikan apresiasi terhadap keberanian Aurelie Moeremans dalam mengungkap pengalaman pribadi melalui novel Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah. Buku ini menjadi bukti nyata dari semangat “dare to speak”, atau berani menyampaikan pengalaman traumatis yang sering kali diabaikan oleh masyarakat.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Ratna Susianawati, menilai bahwa tindakan Aurelie merupakan langkah penting untuk membangkitkan kesadaran publik tentang isu kekerasan seksual pada anak. Menurutnya, tidak semua korban kekerasan seksual berani membuka mulut mereka, sehingga karya tulis ini menjadi contoh positif bagi masyarakat luas.
“Justru ini harus kita apresiasi ya, karena artinya dare to speak, berani untuk menyampaikan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberanian seperti ini akan mendapat perhatian khusus dari pihaknya, sebagai bentuk dukungan terhadap korban yang ingin bercerita.
Fenomena Gunung Es dalam Kekerasan Seksual
Ratna juga menjelaskan bahwa kekerasan seksual pada anak sering kali dianggap sebagai fenomena gunung es. Banyak kasus yang tidak terungkap, karena korban merasa malu, takut, atau bahkan dipaksa diam oleh pelaku. Memoar Aurelie tentang grooming menjadi salah satu contoh dari banyak cerita yang belum tersentuh oleh sistem perlindungan yang ada.
Ia menekankan bahwa karya ini bisa menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat bahwa kekerasan terhadap anak adalah hal nyata dan bisa terjadi pada siapa saja. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memperkuat sistem perlindungan terhadap anak, termasuk dalam aspek pendidikan, sosial, dan hukum.
Dampak Psikologis dari Grooming
Di sisi lain, psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan dampak psikologis yang bisa dialami korban grooming. Salah satu efek utamanya adalah ketergantungan emosional yang tidak sehat. Korban cenderung merasa membutuhkan pelaku untuk merasa aman atau diterima, meskipun hubungan tersebut jelas tidak sehat.
“Nah, di grooming ini kan tadi ada kontrol, ada manipulasi. Artinya si anak ini, ya. Artinya kan dia juga, dalam tanda kutip, sebenarnya dikontrol dan dimanipulasi. Nah, itu kan akhirnya membuat juga banyak hal seperti, dia mungkin jadi punya ketergantungan emosional yang tidak sehat, gitu kan,” ujarnya.
Selain itu, korban juga bisa mengalami perubahan cara mengidentifikasi diri sendiri. Mereka mungkin merasa bahwa hubungan dengan orang yang lebih tua bisa diterima, bahkan dianggap wajar, meskipun dalam kenyataannya itu merupakan bentuk eksploitasi.
Rasa Bersalah dan Malu yang Tak Terbendung
Dampak lain yang sangat berat adalah munculnya rasa bersalah dan rasa malu. Dua emosi ini bisa meninggalkan luka jangka panjang pada korban, bahkan sampai dewasa. Arnold menekankan bahwa dua perasaan ini sering kali menjadi penghalang bagi korban untuk mencari bantuan atau berbicara tentang pengalaman mereka.
“Secara psikologis, dua emosi ini tergolong sangat kuat dan sering meninggalkan luka jangka panjang. Hal ini tentu bisa berdampak buruk pada korban,” tambahnya.
Kehadiran Novel sebagai Bentuk Kesadaran
Buku Broken Strings tidak hanya menjadi sarana penyampaian pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi alat edukasi bagi masyarakat umum. Dengan menceritakan pengalaman nyata, Aurelie berhasil membuka mata banyak orang tentang bagaimana kekerasan seksual bisa terjadi, serta bagaimana korban bisa terjebak dalam siklus trauma yang sulit diatasi.
Dalam konteks ini, novel ini menjadi salah satu bentuk kesadaran kolektif yang penting untuk diperkuat. Melalui karya seperti ini, diharapkan masyarakat lebih peka terhadap isu kekerasan terhadap anak, serta lebih siap untuk mendukung korban yang ingin berbicara.

>
>
>

Saat ini belum ada komentar