Isu Ormas Viral! DPRD Surabaya Dorong Bakesbangpol Jemput Bola, Arif Fathoni: Gotong Royong DNA Arek Suroboyo
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 5 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni (dk)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menyoroti pentingnya pengawasan dan pembinaan organisasi kemasyarakatan (ormas) di tengah menguatnya isu ormas yang belakangan ramai di ruang publik. Ia mendorong Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya untuk lebih aktif melakukan pendataan dan pembinaan secara berkelanjutan.
Berdasarkan data pemerintah provinsi, jumlah ormas di Jawa Timur mencapai sekitar 118.000 organisasi, namun yang tercatat secara resmi di Bakesbangpol Kota Surabaya hingga kini baru sekitar 240 ormas. Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian serius agar dinamika sosial tetap berjalan kondusif.
Kebebasan Berorganisasi Tetap Berasas Pancasila
Menurut Politisi Golkar ini, pascareformasi 1998 Indonesia mengalami pergeseran pendekatan negara, dari kepemimpinan berbasis hard power menuju soft power. Kebebasan berserikat dan berkumpul menjadi bagian dari cita-cita reformasi, namun tetap memiliki batas yang jelas.
“Kebebasan berorganisasi itu tetap berasas Pancasila. Kita tidak bisa menafikan banyaknya ormas, termasuk ormas kesukuan, yang pada dasarnya dibentuk sebagai wadah meningkatkan kesejahteraan anggotanya,” ujar Arif Fathoni.
Ia mengingatkan, yang tidak dibenarkan adalah ketika ormas kesukuan berkembang menjadi sikap primordial berlebihan yang justru menggerus nilai kebinekaan.
Surabaya Laboratorium Kebinekaan
Mas Toni sapaan akrabnya menegaskan, Surabaya sejak masa pra-kemerdekaan dikenal sebagai kota terbuka dan menjadi ruang pertemuan berbagai latar belakang suku dan budaya. Kota ini dibangun oleh semangat gotong royong warga yang datang untuk memperbaiki masa depan.
“Surabaya ini sejak dulu adalah laboratorium kebinekaan. Orang datang ke Surabaya dengan tujuan mengubah nasib, dan kota ini tumbuh dari keberagaman itu,” katanya.
Karena itu, ia berharap Bakesbangpol aktif membina seluruh ormas, baik yang bersifat nasional maupun kedaerahan, agar nuansa gotong royong khas Surabaya tetap terjaga.
Dorong Pertemuan Rutin Antarormas
Fathoni juga mendorong agar Bakesbangpol menjadi wadah pertemuan rutin antarormas untuk membahas persoalan-persoalan kekinian. Ia meyakini setiap organisasi didirikan dengan tujuan baik.
“Tidak ada organisasi yang didirikan untuk tujuan tidak baik. Tinggal bagaimana negara hadir melalui pembinaan, agar kedamaian dan ketertiban tetap terjaga,” tegasnya.
Ia optimistis, komunikasi yang terbangun secara reguler akan memperkuat solidaritas sosial dan mencegah gesekan horizontal di masyarakat.
Gotong Royong Jadi DNA Arek Suroboyo
Lebih jauh, Fathoni menyebut gotong royong sudah menjadi DNA warga Surabaya. Ia mencontohkan solidaritas masyarakat saat membantu korban bencana di berbagai daerah Indonesia, yang menunjukkan kuatnya rasa kemanusiaan warga Kota Pahlawan.
“Itu membuktikan bahwa rakyat Surabaya ini DNA-nya gotong royong,” ucapnya.
Ia berharap pengalaman dan dinamika sosial yang terjadi belakangan bisa dijadikan refleksi bersama agar tidak terulang di masa mendatang.
Literasi Digital Jadi Kunci Tangkal Hoaks
Selain pembinaan ormas, Fathoni juga menekankan pentingnya peningkatan literasi digital di tengah masyarakat. Ia mendorong kolaborasi Bakesbangpol dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) untuk menekan penyebaran hoaks dan disinformasi, terutama di era kecerdasan buatan.
“Salah satu cara menangkal hoaks adalah membangun akal sehat rakyat. Kesadaran kolektif ini harus diperkuat,” katanya.
Ia bahkan mengusulkan lahirnya “duta saring sebelum sharing” di tingkat kelurahan, agar masyarakat tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
DPRD Surabaya: Pendataan Ormas Perlu Jemput Bola
Menanggapi masih banyaknya ormas yang belum terdata resmi, Fathoni menilai langkah pendataan ulang sangat diperlukan. Ia menyebut, selama ini Bakesbangpol cenderung bersifat pasif karena perubahan pendekatan negara pascareformasi.
“Dengan adanya kejadian-kejadian seperti sekarang, Bakesbangpol harus jemput bola. Pendataan dan silaturahmi antarormas perlu dirajut lebih aktif,” ujarnya.
Menurutnya, dengan pendataan dan pembinaan yang baik, setiap ormas dapat menegakkan disiplin internal apabila ada oknum yang meresahkan.
“Saya yakin tidak ada satu pun ormas di Surabaya yang menginginkan kota ini tidak kondusif,” pungkas Mas Toni.***
- Penulis: Diagram Kota

>
>
>
