
Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Atasi Krisis Air
DIAGRAMKOTA.COM – Kondisi puncak kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur (Jatim) kembali menjadi perhatian serius. Di Kabupaten Tuban, debit air menurun drastis, memaksa warga mengandalkan pasokan air bersih dari tangki-tangki bantuan. Namun, berkat sinergi kuat antara pemerintah daerah, lembaga legislatif, masyarakat, dan dunia usaha, Tuban berhasil menghindari status darurat kekeringan hingga saat ini.
Anggota DPRD Jatim dari Daerah Pemilihan XII (Tuban-Bojonegoro), Aulia Hany Mustikasari, turun langsung ke lapangan untuk memantau penyaluran bantuan air bersih di Desa Sambongrejo, Kecamatan Semanding. Ia menyaksikan secara langsung proses pendistribusian air dengan kapasitas 5.000 liter per truk, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan harian warga di titik-titik rawan kekeringan.
“Kami salurkan air ke beberapa titik dalam satu desa agar bisa tersebar merata. Ada yang sudah memiliki tandon, tapi saat kemarau panjang seperti ini, air tidak mencapai sumbernya. Ini menjadi tantangan besar bagi masyarakat,” ujar Hany.
Warga Harus Andalkan Air Bantuan karena Sumur Kering
Meskipun sebagian warga Desa Sambongrejo memiliki sumur swadaya, kondisi puncak kemarau membuat tingkat air tanah turun drastis. Akibatnya, sumur-sumur tersebut kering atau hanya menghasilkan air sedikit yang tidak layak konsumsi. Mereka pun terpaksa bergantung pada bantuan dari pemerintah dan lembaga lain.
Hany menilai kolaborasi lintas sektor di Tuban telah membuktikan efektivitasnya dalam mengantisipasi dampak kekeringan. Ia mengapresiasi dukungan luar biasa dari masyarakat, organisasi sosial, dan perusahaan lokal yang turut serta dalam upaya penyediaan air bersih.
“Alhamdulillah, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha sangat solid. Karena itu, belum ada permohonan bantuan resmi ke provinsi. Ini bukti bahwa kita mampu menangani krisis secara mandiri dan cepat,” jelas legislator muda dari Fraksi Partai Golkar tersebut.
Capaian Penyaluran Air dan Rencana Jangka Panjang
Berdasarkan data terkini, total bantuan air bersih yang telah disalurkan ke warga Tuban mencapai 1.688.000 liter, menjangkau 29 desa di 10 kecamatan. Angka ini menunjukkan komitmen kolektif dalam menjaga ketahanan hidup masyarakat saat musim kering.
Untuk mencegah kekeringan menjadi masalah tahunan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban telah merancang strategi jangka panjang. Salah satunya adalah perluasan jaringan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) serta pembangunan sumur uji di lokasi-lokasi rawan kekeringan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat infrastruktur air minum dan meningkatkan ketahanan wilayah terhadap perubahan iklim.
Peran Legislatif dalam Pengawasan dan Evaluasi
DPRD Jatim juga berperan aktif dalam memastikan kebijakan penanggulangan kekeringan berjalan efektif. Melalui pengawasan rutin dan evaluasi program, lembaga ini mendorong agar setiap langkah yang diambil oleh eksekutif benar-benar berdampak langsung kepada masyarakat.
“Kami tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memastikan bahwa solusi yang diberikan berkelanjutan. Tidak boleh hanya jadi obat darurat, tapi harus menjadi bagian dari rencana pembangunan berkelanjutan,” tandas Hany.
Kesimpulan: Tuban sebagai Contoh Kolaboratif
Tuban kini menjadi contoh nyata bahwa krisis air bersih bisa diatasi tanpa harus menunggu bantuan dari luar. Dengan komitmen bersama dari semua pemangku kepentingan, daerah ini mampu menjaga stabilitas sosial dan kesejahteraan warganya di tengah tantangan iklim yang semakin ekstrem.
Keberhasilan ini bukan hanya soal teknis, tetapi lebih pada kebersamaan, inovasi, dan kepemimpinan yang responsif. Jika model ini bisa direplikasi di wilayah lain, maka Indonesia akan lebih siap menghadapi ancaman krisis air di masa depan.













