DIAGRAMKOTA.COM – Pagelaran wayang kulit bukan sekadar tontonan hiburan semalam suntuk, melainkan sebuah tuntunan (media pendidikan moral) peninggalan leluhur nusantara. Hal ini tergambar jelas dalam puncak perhelatan tradisi Bersih Desa Kelurahan Tegalsari, Sabtu (5/6/2026) lalu, yang menghadirkan lakon sakral “Wahyu Kamulyan Jati” oleh dalang Ki Bambang Handoyo.
Pemilihan lakon ini oleh panitia penyelenggara tidaklah sembarangan. Di tengah gempuran modernisasi dan gaya hidup materialistis perkotaan, “Wahyu Kamulyan Jati” hadir sebagai oase spiritual untuk mengingatkan kembali masyarakat pada fondasi dasar jati diri manusia.
Sinopsis Lakon: Turunnya Anugerah Kemuliaan dari Kahyangan
Secara etimologi bahasa Jawa, “Wahyu” bermakna anugerah atau petunjuk langsung dari Tuhan (Sang Hyang Widhi), “Kamulyan” berarti kemuliaan atau kejayaan, dan “Jati” bermakna sejati atau murni.
Alur cerita lakon ini umumnya berpusat pada momen ketika para dewa di Kahyangan menurunkan sebuah wahyu agung ke bumi (Marcapada). Mengetahui turunnya anugerah tersebut, berbagai pihak—baik dari golongan ksatria berhati bersih (simbol kebaikan/Pandawa) maupun golongan raksasa dan Kurawa (simbol keserakahan/hawa nafsu)—berlomba-lomba memperebutkannya.
Namun, esensi dari lakon Wahyu dalam pewayangan adalah: Wahyu tidak bisa direbut dengan paksaan, senjata, maupun kekayaan. Anugerah kemuliaan sejati itu hanya akan hinggap dan bersemayam di dalam wadah (diri manusia) yang hatinya suci, rela berkorban untuk rakyat, dan telah berhasil menaklukkan ego pribadinya melalui laku prihatin (tapa brata).
Tiga Nilai Filosofis Utama dalam “Wahyu Kamulyan Jati”
Sebagai sebuah News Feature budaya, penting untuk membedah apa saja pesan moral yang ingin disampaikan Sang Dalang kepada warga yang hadir di Pendopo Pesarean Eyang Kudo Kardono malam itu. Berikut adalah tiga pilar filosofis utamanya:
1. Kemuliaan Bukan Berasal dari Materi dan Tahta
Cerita ini mendobrak stigma bahwa orang yang mulia adalah mereka yang kaya raya atau memiliki jabatan tinggi. Kemuliaan sejati (Kamulyan Jati) justru terletak pada kebermanfaatan seseorang bagi lingkungan sekitarnya. Pemimpin yang mulia adalah pemimpin yang melayani warganya, bukan yang menindas demi ambisi pribadi.
2. Konsep “Memayu Hayuning Bawana”
Dalam perjalanannya mencari wahyu, tokoh utama akan dihadapkan pada godaan hutan belantara dan raksasa. Raksasa ini adalah metafora dari hawa nafsu dalam diri manusia itu sendiri (marah, iri, serakah). Barangsiapa yang mampu meredam hawa nafsunya, ia akan mampu Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia) dan membawa kedamaian bagi desanya.
3. Keselarasan Hubungan Hamba, Alam, dan Pencipta
Turunnya wahyu menandakan adanya Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Sang Pencipta). Hal ini sangat relevan dengan ritual Cok Bakal dan Wedar Sesaji dalam Bersih Desa Tegalsari, di mana warga diajarkan untuk menjaga harmonisasi dengan Tuhan, menghormati alam, serta mendoakan para leluhur babat alas desa.
Benteng Jati Diri di Era Modern
Pementasan lakon sarat makna ini beresonansi kuat dengan visi yang diusung oleh penyelenggara acara. Wayang kulit menjadi medium paling efektif untuk menyuntikkan kembali nilai-nilai moralitas luhur ke dalam nadi generasi muda Surabaya.
Seperti yang ditegaskan kembali oleh Ketua Panitia Bersih Desa, Mayor Laut Slamet Rijadi, pemahaman terhadap akar budaya adalah kunci agar bangsa ini tidak kehilangan arah sejarahnya.
“Melestarikan adat tradisi budaya nusantara, memperkenalkan tradisi budaya sejak usia dini biar tidak lupa asal usul leluhur kita, sehingga jati diri bangsa Indonesia tidak hilang atau musnah,” tutur Mayor Laut Slamet Rijadi dalam pesannya.
Melalui lakon “Wahyu Kamulyan Jati“, warga Tegalsari diajak untuk kembali merenung: bahwa untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran wilayah, harus dimulai dari kebersihan hati dan niat baik dari setiap individu yang mendiaminya.***






















