Kasus TBC di Surabaya Capai 4.191 pada 2026, Dinkes Perkuat Skrining dan Teknologi Deteksi
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi perhatian utama pemerintah Kota Surabaya dalam upaya mengurangi angka penyebaran penyakit ini. Pada tahun 2026, jumlah kasus TBC di kota tersebut mencapai 4.191, dengan rincian 4.078 kasus sensitif obat dan 113 kasus resistan obat. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menjelaskan bahwa kegiatan tracing dan skrining dilakukan secara rutin untuk memastikan penemuan dini dan pengobatan yang tepat.
Lima Wilayah Fokus Tracing dan Skrining
Billy menegaskan bahwa Dinkes Surabaya fokus pada lima area setiap pekan untuk melakukan aktivitas tracing dan skrining. “Kita punya kegiatan untuk tracking dan skrining. Di Surabaya ini ada lima area yang setiap minggu itu kita lakukan kegiatan untuk tracing dan screening,” ujarnya.
Tracing dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC, sementara skrining menyasar masyarakat yang tidak bergejala maupun tidak pernah kontak dengan penderita. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai penularan secepat mungkin.
Pencapaian Skrining dan Pemeriksaan
Berdasarkan data Dinkes Surabaya periode Januari-Mei 2026, dari target penemuan 61.624 suspek TBC, sebanyak 44.088 orang telah diperiksa atau mencapai 71,54 persen. Sementara capaian skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau 45,78 persen dari target 50 persen jumlah penduduk yang harus diskrining.
Dari estimasi 11.412 kasus TBC pada 2026, sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan. Saat ini, sebanyak 4.166 pasien TBC tengah menjalani pengobatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Surabaya.
Teknologi Baru dalam Deteksi TBC
Salah satu inovasi yang digunakan adalah teknologi deteksi berbasis saliva. “Nah, kesulitan untuk dapat dahak ini, ternyata ada alat yang bisa membantu kita, cukup saliva atau air liur saja kita bisa mendeteksinya,” jelas dr. Billy.
Pengembangan metode pemeriksaan ini didukung oleh tim ahli internasional dari Cina dan Korea. Selain itu, kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dokter spesialis paru, serta residen paru juga dilibatkan dalam kegiatan skrining.
Pemantauan Kepatuhan Pengobatan
Untuk memastikan keberhasilan pengobatan, Dinkes Surabaya melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH), petugas puskesmas, dan tim Dinkes dalam memantau kepatuhan pasien mengonsumsi obat. “Jadi baik itu Kader Surabaya Hebat, tim dari Puskesmas setempat dan Dinas Kesehatan akan memantau ketaatan minum obatnya,” kata dr. Billy.
Durasi terapi yang cukup panjang sering kali menjadi tantangan bagi pasien. Oleh karena itu, pendampingan dan motivasi terus diberikan agar pasien tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan.
Target Nasional Eliminasi TBC pada 2030
Billy berharap berbagai upaya yang dilakukan Pemkot Surabaya dapat membantu pencapaian target nasional eliminasi TBC pada 2030. “Kita harapkan paling tidak target dari Kementerian Kesehatan itu kita bisa dapat, sehingga angka eliminasi TB (tahun 2030) yang diharapkan itu tercapai,” pungkasnya.
Target tersebut sejalan dengan Perpres Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, yang menargetkan angka kejadian TBC turun menjadi 65 kasus per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi 6 kasus per 100.000 penduduk pada 2030.
Langkah Efektif dalam Menangani TBC
Menurut dr. Billy, langkah penanganan TBC di Surabaya dilakukan segera setelah pasien terdiagnosis. Obat dan paket terapi telah tersedia di seluruh puskesmas untuk memastikan pasien dapat segera menjalani pengobatan. “Jadi langkah dari tracing dan screening ini begitu kita ketemu, langsung kita terapi. Setelah diagnostik selesai kita terapi,” tambahnya.
Dengan kombinasi antara teknologi modern, kerja sama lintas sektor, dan pemantauan ketat, Surabaya terus berkomitmen untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030.***

>

Saat ini belum ada komentar