Armuji Terima Aduan 84 Korban Arisan Bodong di Surabaya, Pelaku Diduga Kabur
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 3 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, Terima aduan 84 korban aeisan bodong di Surabaya raya
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kasus dugaan arisan bodong kembali mencuat di Kota Pahlawan. Kali ini, puluhan penyanyi dangdut dan pekerja hiburan asal Surabaya Raya mengaku menjadi korban praktik jual beli arisan fiktif dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp2,2 miliar.
Nama Novita Sari, yang dikenal dengan nama panggung Novita Amanda, disebut dalam aduan para korban. Dugaan penipuan tersebut menyeret korban dari berbagai daerah, mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, hingga Mojokerto.
Sebanyak 84 korban mendatangi Rumah Aspirasi Wakil Wali Kota Surabaya untuk meminta pendampingan dan perhatian pemerintah atas kasus yang mereka alami.
Armuji Ingatkan Warga Jangan Mudah Tergiur Keuntungan Fantastis
Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji, mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran investasi maupun arisan dengan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Menurutnya, pola yang digunakan dalam kasus seperti ini hampir selalu sama, yakni memberikan keuntungan di awal untuk membangun kepercayaan korban sebelum akhirnya dana yang terkumpul dibawa kabur.
“Biasanya awal-awal lancar karena pelaku ingin membangun kepercayaan. Setelah korbannya semakin banyak, uangnya hilang dan pelaku menghilang,” ujar Armuji saat menerima aduan korban, Selasa (12/5/2026).
Ia menilai praktik tersebut masuk kategori penipuan klasik dengan metode memutar uang anggota baru untuk membayar anggota lama.
“Kalau dipikir secara logika, keuntungan besar dalam waktu singkat itu tidak masuk akal. Masyarakat harus mulai lebih hati-hati supaya kasus seperti ini tidak terus berulang,” tegasnya.
Rumah Keluarga Pelaku Disebut Akan Didatangi Bersama Korban
Dalam pertemuan tersebut, Armuji juga meminta para korban mengumpulkan data korban lain untuk mendatangi lokasi keluarga terduga pelaku di kawasan Sememi, Surabaya.
Ia berharap langkah tersebut dapat mempercepat penyelesaian persoalan sekaligus mencegah pelaku kembali menghilang.
“Kita akan cek langsung ke lokasi bersama korban. Jangan sampai pelakunya kembali kabur sebelum ada kejelasan,” katanya.
Selain itu, Armuji kembali mengingatkan masyarakat agar menjadikan kasus investasi bodong sebagai pelajaran penting.
“Kasus seperti ini terus berulang. Karena itu masyarakat jangan mudah percaya dengan janji keuntungan tinggi tanpa dasar yang jelas,” tandasnya.
Korban Mengaku Dijanjikan Untung Hingga 50 Persen
Salah satu korban, Dea Bonita, mengaku mengalami kerugian sekitar Rp40 juta setelah mengikuti arisan yang ditawarkan secara bertahap melalui grup percakapan.
Menurut Dea, sistem yang dijalankan awalnya tampak seperti transaksi jual beli slot arisan biasa. Namun belakangan diketahui seluruh skema tersebut diduga fiktif.
“Awalnya terlihat normal seperti arisan pada umumnya. Katanya ada peserta yang menjual slot karena butuh uang cepat. Setelah berjalan, ternyata tidak ada arisan sama sekali,” ungkap Dea.
Ia menjelaskan, pelaku menawarkan skema arisan harian dengan iming-iming keuntungan antara 20 persen hingga 50 persen hanya dalam hitungan hari.
Korban diminta menyetor dana mulai Rp1 juta hingga Rp3 juta, lalu dijanjikan pengembalian lebih besar dalam waktu singkat.
“Karena pelaku dikenal dekat dengan komunitas penyanyi dan pemain musik, banyak yang percaya dan akhirnya ikut menyetor,” jelasnya.
Dea menyebut total kerugian pokok dari seluruh korban mencapai sekitar Rp1,8 miliar. Jika ditambah keuntungan yang dijanjikan pelaku, nilainya diperkirakan menembus Rp2,2 miliar.
Sempat Cair di Awal, Korban Makin Percaya
Korban lainnya, Jihan Savita, mengaku sempat menerima keuntungan pada setoran pertama sehingga semakin yakin menambah nominal investasi.
“Awalnya saya setor Rp1 juta lalu kembali Rp1,3 juta. Dari situ saya percaya dan terus ikut sampai total sekitar Rp16 juta. Tapi setoran terakhir tidak kembali,” ujarnya.
Menurut Jihan, terduga pelaku kini sulit dihubungi dan diduga menghilang setelah sebelumnya berjanji menyelesaikan persoalan dalam waktu dua minggu.
Rumah pelaku di kawasan Driyorejo, Gresik, disebut sudah kosong. Meski demikian, para korban mengaku masih menemukan jejak keluarga pelaku di wilayah Sememi dan Benowo, Surabaya.
“Beberapa transfer uang juga masuk ke rekening keluarga pelaku. Bukti transfernya masih kami simpan,” katanya.
For Justice Siapkan Laporan Polisi Jika Tak Ada Itikad Baik
Sekretaris organisasi pendamping korban For Justice, Yudistira Eka Putra, mengatakan sebagian besar korban merupakan warga Surabaya.
Ia menyebut para korban berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah mengingat jumlah korban yang cukup besar.
“Lebih dari 70 persen korban berasal dari Surabaya. Kami memberi tenggat waktu sampai 17 Mei. Jika tidak ada itikad baik dari pelaku, kasus ini akan dilaporkan secara resmi ke kepolisian,” ujar Yudistira.
Ia juga mengungkapkan bahwa pelaku sempat mengakui dalam grup percakapan bahwa arisan tersebut memang tidak nyata dan hanya memutar dana anggota hingga akhirnya gagal membayar.
“Pelaku menawarkan keuntungan cepat dengan persentase tinggi dalam waktu singkat. Polanya seperti skema gali lubang tutup lubang sampai akhirnya kolaps,” jelasnya.
Masyarakat Diminta Waspada Investasi dan Arisan Bodong
Kasus dugaan arisan bodong ini kembali menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu lebih berhati-hati terhadap tawaran investasi instan dengan keuntungan tinggi.
Pakar keuangan kerap mengingatkan bahwa skema dengan imbal hasil besar dalam waktu cepat patut dicurigai, terlebih jika tidak memiliki legalitas jelas maupun mekanisme usaha yang transparan.
Para korban kini berharap ada penyelesaian hukum serta pengembalian dana yang telah mereka setorkan. Sementara pendamping korban memastikan proses pelaporan ke aparat penegak hukum tetap berjalan apabila tidak ada penyelesaian dalam waktu dekat.***

>
>
