Fakta Baru Keracunan Massal MBG Surabaya, Gibran Curiga Rasa Daging Tak Normal
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 15 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

(ilustrasi AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Fakta baru mulai terungkap dalam insiden dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan siswa sekolah dasar di Surabaya.
Sejumlah siswa mengaku merasakan kejanggalan pada menu makanan yang mereka konsumsi sebelum akhirnya mengalami gejala mual, pusing hingga sakit perut.
Salah satu korban, Gibran Pratama, siswa kelas 4 SD Raden Wijaya, mengungkapkan bahwa rasa daging pada menu nasi krengsengan yang dibagikan sekolah terasa tidak seperti biasanya.
Menurut Gibran, makanan tersebut dibagikan sekitar pukul 09.00 WIB saat jam belajar berlangsung.
“Bumbunya sebenarnya enak, tapi dagingnya rasanya aneh, seperti rasa obat,” ujar Gibran saat ditemui usai menjalani pemeriksaan.
Tak lama setelah menyantap sebagian makanan itu, Gibran mulai merasakan kondisi tubuhnya menurun. Ia mengaku mengalami sakit perut disertai pusing kepala hingga tubuh terasa lemas.
Empat Siswa Dievakuasi ke Puskesmas
Kondisi serupa ternyata juga dialami sejumlah siswa lainnya di sekolah tersebut. Situasi di lingkungan sekolah sempat panik ketika beberapa murid mengeluhkan gejala hampir bersamaan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, sedikitnya empat siswa dari SD Raden Wijaya harus dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.
“Ada empat anak yang sakit perut. Dua dari kelas 6 dan dua dari kelas 4, termasuk saya,” kata Gibran.
Insiden ini pun memicu kekhawatiran besar di kalangan wali murid. Banyak orang tua langsung mendatangi sekolah maupun mencari informasi kondisi anak mereka setelah kabar dugaan keracunan menyebar melalui grup WhatsApp.
Keracunan Massal, Orang Tua Panik dan Khawatir
Atika, wali murid dari Jihan, siswi kelas 6 SD Ubaid, mengaku sangat cemas setelah mendengar kabar tersebut. Meski anaknya hanya mengonsumsi sedikit porsi nasi krengsengan dan buncis dari program MBG, ia tetap memilih melakukan langkah antisipasi.
“Saya langsung panik. Begitu dapat kabar dari sekolah dan grup WhatsApp, saya langsung belikan degan ijo dan susu untuk antisipasi. Takut kalau sampai terjadi sesuatu,” tutur Atika.
Beruntung, putrinya tidak mengalami gejala berat seperti beberapa siswa lain yang mengeluhkan sakit perut dan pening kepala. Namun rasa khawatir tetap menghantui dirinya sebagai orang tua.
Menurut Atika, aspek keamanan pangan dalam program MBG harus benar-benar menjadi perhatian serius agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Programnya bagus, tapi kualitas dan kebersihan makanan harus benar-benar dijaga. Jangan sampai anak-anak jadi korban,” pungkasnya. ***

>
>
