Tradisi Lailatul Ishari Hidupkan Haul ke-21 KH Mas Zuber Charis di Surabaya
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM — Tradisi Lailatul Ishari menghidupkan suasana haul ke-21 KH. Mas Zuber Charis yang digelar di Masjid Baiturrohim, Sabtu malam (25/4/2026).
Ribuan jemaah dari berbagai daerah memadati lokasi untuk mengikuti lantunan sholawat yang berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan.
Panitia menghadirkan kelompok Ishari dari sejumlah wilayah di Jawa Timur seperti Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Jombang, Mojokerto, hingga Bangkalan.
Para peserta secara bergantian melantunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, menciptakan suasana religius yang kental hingga larut malam.
Penyelenggara haul, KH. Mas Ali Wafa, menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang terus meningkat setiap tahun.
Ia menegaskan bahwa tradisi Lailatul Ishari menjadi bagian penting dalam menjaga warisan keagamaan sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan lancar berkat dukungan banyak pihak dan semangat gotong royong masyarakat,” ujarnya.
Selain Lailatul Ishari, panitia juga menggelar rangkaian kegiatan lain seperti manaqib serta bazar kuliner yang membentang di sepanjang Jalan Gunung Anyar Tengah.
Bazar tersebut menghadirkan berbagai sajian makanan dan minuman yang menarik minat pengunjung, terutama warga yang datang bersama keluarga.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang acara. Warga tidak hanya mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi juga menikmati suasana kebersamaan yang tercipta dalam peringatan haul tersebut.
Salah satu warga mengaku senang dengan kemeriahan acara tahun ini karena menghadirkan keseimbangan antara kegiatan spiritual dan hiburan rakyat.
Hal ini menjadikan haul tidak hanya sebagai ajang doa bersama, tetapi juga ruang silaturahmi bagi masyarakat.
Melalui tradisi Lailatul Ishari, haul ke-21 KH Mas Zuber Charis tidak hanya menjadi momentum mengenang jasa ulama, tetapi juga memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan di tengah masyarakat Surabaya. (dk/yud)

>
