Penanganan 138 Titik Banjir di Surabaya: Upaya Pemkot Tambah Rumah Pompa dan Normalisasi Saluran
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month Senin, 2 Feb 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Surabaya, kota yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan budaya Jawa Timur, masih menghadapi tantangan terkait banjir. Meski jumlah titik banjir telah berkurang dari 220 menjadi 138 sejak tahun 2021, kondisi ini tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat. Berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat sistem drainase dan mencegah genangan air saat musim hujan tiba.
Perencanaan Pembangunan Rumah Pompa Baru
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah merancang pembangunan lima rumah pompa baru di beberapa kawasan strategis. Lokasi yang dipilih antara lain dekat Gereja Bethany, kawasan Semolo dan Nginden, serta Teluk Kumai. Dengan tambahan tersebut, jumlah rumah pompa di Surabaya akan meningkat dari 85 menjadi 90 unit. Proses lelang untuk proyek ini akan dilakukan dalam bulan ini dan bulan depan.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya, Hidayat Syah, menjelaskan bahwa penambahan rumah pompa merupakan langkah penting untuk memperkuat sistem pengendalian banjir. “Jadi di (dekat) Gereja Bethany, kawasan Semolo dan Nginden, itu kita bikin rumah pompa,” ujarnya.
Normalisasi Saluran sebagai Solusi Utama
Selain pembangunan infrastruktur baru, pemkot juga tetap mengandalkan normalisasi saluran sebagai solusi utama. Proses ini melibatkan penggunaan alat berat dan tenaga Satgas untuk membersihkan saluran-saluran yang mengalami sedimentasi. Contohnya, di kawasan Simo Kalangan yang memiliki tingkat sedimentasi cukup tinggi, pemkot bekerja sama dengan Satgas di tingkat kecamatan untuk menangani saluran-saluran di lingkungan warga.
“Satgas Kecamatan juga turun,” kata Hidayat Syah, menjelaskan keterlibatan komunitas dalam proses normalisasi saluran.
Evaluasi dan Penyesuaian Sistem Drainase
Kepala Bidang Drainase DSDABM Kota Surabaya, Adi Gunita, menyatakan bahwa sistem drainase di Surabaya terus dievaluasi dan disesuaikan dengan perubahan pola curah hujan. “Jadi memang ada beberapa sistem drainase yang memang dirasa kita memang menyesuaikan dari intensitas curah hujan,” jelasnya.
Pada tahun 2026, DSDABM melakukan intervensi terhadap 12 dari total 30 sistem drainase yang ada di Surabaya. Intervensi tersebut mencakup peningkatan kapasitas saluran drainase, termasuk pembesaran long storage yang dinilai menjadi kebutuhan mutlak.
Titik Genangan yang Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Meski telah dilakukan pemetaan titik genangan sejak beberapa tahun terakhir, beberapa lokasi seperti kawasan Jalan Raya Tenggilis Mejoyo, Simo Kalangan, dan Margo Mulyo masih menjadi pekerjaan rumah. Adi Gunita menjelaskan bahwa genangan di Surabaya dikendalikan berdasarkan tiga parameter, yaitu tinggi genangannya, lama genangannya, dan luas genangannya.
Kawasan Margo Mulyo, misalnya, memiliki karakteristik khusus karena berada di cekungan, terutama di bawah jalan tol dan area keluar Tol Margo Bumi. Meskipun telah dilengkapi dengan Rumah Pompa Dongfeng, kapasitas dan konektivitas saluran di kawasan tersebut masih perlu ditingkatkan.
Persiapan Menghadapi Musim Hujan
Untuk menghadapi puncak musim hujan Februari 2026, DSDABM memprioritaskan kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) secara masif. Kegiatan tersebut meliputi pengerukan saluran secara rutin untuk mengurangi sedimentasi yang dapat menghambat aliran air. “Prioritas kami adalah OP-nya, Operasi Pemeliharaannya,” ujar Adi Gunita.
Selain itu, pemkot juga menekankan pentingnya edukasi terkait sampah kepada masyarakat. “Tapi yang otomatis kita ikhtiarnya adalah sarana prasarana, sembari dengan edukasi masalah sampah hal yang mungkin sangat kita harus intens di situ,” tambahnya.***

>

Saat ini belum ada komentar