Kebun Binatang Surabaya Bertransformasi Jadi Perumda untuk Tingkatkan Pendapatan Asli Daerah
- account_circle Diagram Kota
- calendar_month 12 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DIAGRAMKOTA.COM – Kebun Binatang Surabaya (KBS) resmi berubah menjadi perusahaan umum daerah (perumda) setelah peraturan daerah (raperda) disahkan. Perubahan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dan memperkuat peran KBS sebagai lembaga konservasi, edukasi, dan rekreasi.
Keuntungan Struktural Sebagai Perumda
Dengan status sebagai perumda, KBS memiliki keleluasaan dalam mengelola bisnis dan menjalin kerja sama dengan pihak ketiga. Yuga Pratisabda Widyawasta, Ketua Pansus Raperda KBS DPRD Kota Surabaya, menyampaikan bahwa perubahan ini memberikan fleksibilitas dalam pengembangan usaha.
“Sebetulnya sama, tapi dalam bentuk usahanya ini lebih fleksibel. Contohnya bisa bekerja sama dengan pihak ketiga,” ujarnya.
Keuntungan ini juga membuka peluang bagi KBS untuk menciptakan inovasi baru, seperti pengembangan wahana atau layanan yang lebih menarik minat pengunjung.
Peningkatan Pendapatan yang Signifikan
Hasil dari transformasi ini sudah terlihat sejak tahun 2025, di mana pendapatan KBS naik hingga 700 persen dibandingkan tahun 2024. Yuga optimistis bahwa peningkatan ini akan terus berlanjut setelah KBS menjadi perumda.
“Karena memang nanti ada skema-skema bisnis yang sebetulnya sudah direncanakan sama direksi sebelumnya, baru bisa dieksekusi setelah jadi perumda,” katanya.
Beberapa rencana inovasi bisnis yang sedang dipersiapkan antara lain pembukaan kafe satwa dan pengembangan tempat-tempat interaktif yang bisa menjadi daya tarik tambahan bagi pengunjung.
Fokus pada Konservasi dan Edukasi
Meski fokus pada bisnis, KBS tetap mempertahankan perannya sebagai lembaga konservasi dan edukasi. Muhammad Nahroni, Direktur Keuangan KBS, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tiga pilar utama KBS: konservasi, edukasi, dan rekreasi.
“Kita juga harus optimal tidak hanya dalam satu visi tadi ya dari tiga pilar, tapi semuanya harus berkembang seiring sejalan karena konservasi itu tidak bisa maksimal tanpa dukungan operasional yang kita peroleh dari rekreasi,” ujarnya.
Selain itu, KBS juga berencana menjalin kerja sama dengan berbagai instansi pendidikan untuk memperluas fungsi edukasi. Bahkan, rencana jangka panjang mencakup kolaborasi internasional.
Strategi Pengembangan Masa Depan
Untuk mendorong pertumbuhan PAD, KBS akan terus memperluas cakupan usaha dan memperbaiki layanan. Salah satu langkah konkret adalah pengembangan kafe satwa yang dirancang sebagai pusat interaksi antara pengunjung dan hewan.
“Rencananya sama teman-teman direksi kemarin (tembok KBS Jalan Darmo) waktu memaparkan sedikit ke kita, itu rencananya akan dibuka dan itu nanti akan bisa jadi tempat-tempat hub-hub baru untuk nanti semisal kafe satwa atau apa,” ujar Yuga.
Strategi ini diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan kontribusi terhadap PAD.
Tantangan dan Peluang
Meski ada peluang besar, KBS juga menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas layanan sambil mengembangkan bisnis. Namun, dengan komitmen kuat dari direksi dan DPRD, KBS siap menghadapi tantangan tersebut.***

>
>
>

Saat ini belum ada komentar